Selasa, 02 November 2010

S U M I

Sumi diam mematung dihadapanku dan beberapa anak kos lainnya. Ia sudah layaknya seorang terdakwa yang menunggu vonis akhir saja. Sebenarnya aku tak bermaksud menginterograsinya seperti seorang polisi. Namun sikap diamnya, membuatku tak sabar mencercanya dengan berbagai macam pertanyaan. Aku memang ditugaskan oleh anak anak kos sebagai juru bicara untuk menginterograsi Sumi. Ini semua berawal dari perubahan sikap dan tubuh Sumi yang memang membuat kami memiliki banyak kecurigaan. Mula-mula tak ada seorang pun yang peduli ataupun curiga dengan perubahan tubuh sumi pembantu kosku dua bulan terakhir ini. Namun ketika perubahannya mengarah pada sebuah keganjilan, maka kami anak anak satu kospun mulai bertanya tanya. Kenapa Sumi terlihat gemuk hanya pada bagian perutnya dan pada buah dadanya saja? Bukankah itu tanda tanda orang yang sedang hamil? Tapi bukankah ia belum menikah? Lalu dengan siapa Sumi hamil? Kami hanya memendam kecurigaan itu dihati masing masing. “Tapi kapan Sumi sempat memiliki teman pria? Sudah berapa bulan Sumi hamil? Ataukah sebenarnya Sumi hanya terkena penyakit perut dan penyakit lainnya yang berhubungan dengan perutnya?” Begitulah bisik bisik itu meningkat menjadi sebuah kecurigaan yang pada akhirnya kami ungkapkan didepan Sumi. Sumi adalah pembantu kosku. Ia masih sangat muda. Umurnya baru 19 tahun. Seperti kebanyakan anak anak kampung yang putus sekolah, Sumi berusaha memperjuangkan nasibnya kekota. Meski hanya untuk menjadi seorang pembantu. Namun ia sudah cukup bahagia. Ia rajin dan tekun menjalani pekerjaannya. Ia sudah sangat akrab dengan anak anak kos, karena semua keperluan yang menyangkut fasilitas kos, sudah diserahkan oleh pemilik kos kepada Sumi. Om Agus pemilik kosku sudah memberikan semua mandat kepada Sumi untuk mengurusi keperluan kami, termasuk menerima uang pembayaran kos setiap bulannya. Setiap hari Sumilah yang mencuci baju baju kami dan menyiapkan segala macam keperluan kami. Bagi kami Sumi sudah seperti teman bahkan keluarga kami. Maka ketika terjadi sesuatu yang sedikit berubah terhadap keadaan Sumi, kamipun langsung mengetahuinya.

Sumi masih diam memaku. Akupun terdiam untuk memberi kesempatan ia berkata kata. Anak anak kos lainnya yang berhimpitan mengelilingi Sumi juga diam tanpa sepatah katapun. Mereka hanya menahan nafas menunggu jawaban yang keluar dari mulut Sumi. Tapi Sumi masih diam dan tak melakukan apa apa. Tatapannya kosong, keningnya yang lapang semakin memperjelas kehampaan. Rambutnya yang lurus tersisir rapi, hanya dikuncir ekor kuda saja. Sumi menunduk sambil meremas remas kedua tangannya, tanda kegelisahan yang dalam. Ia kembali menatapku, kemudian menatap secara bergantian kepada anak anak kos yang lainnya. Masih tanpa suara.
“ Apa yang sebenarnya terjadi dengan kamu Sum,” tanyaku sekali lagi. “Kami semua disini akan membantumu, jadi tolong jawab semua pertanyaan kami. Tidak perlu takut, percayalah kepada kami”. Sumi masih tetap dalam keadaan bungkam. Namun tiba tiba kulihat air mata menggenangi pipinya menanggapi kata kataku. Secara hampir bersamaan kami semua menghela nafas, antara lega dan kecewa, kami langsung memahami keadaan Sumi. Tanpa sepatah katapun penjelasan dari Sumi, kamipun langsung bisa mengartikan kegelisahan Sumi diantara kami. Sumi hamil!. Sebagaimana seorang wanita, seharusnya kehamilan bisa dimaknai dengan kebahagiaan ataupun sebuah kebanggaan. Namun ini berbeda. Sumi hamil, dan kami semua tidak tahu dengan siapa ia hamil. Sumi masih bujang, ia belum menikah. Bahkan menurut pengamatan kami, ia tidak punya pacar. Inilah yang menjadikan masalah ini semakin rumit. Aku memegang kedua tangannya, ingin kuberi sedikit kekuatan yang kumiliki untuk wanita malang yang ada dihadapanku ini. Air matanya sudah hampir mengering, namun mulutnya tetap terkunci. Aku memberikan isyarat dengan mataku kepada anak anak kos yang masih berderet deret mengelilingi Sumi, supaya mereka meninggalkan aku dan Sumi berdua saja.
“Kamu tidak sendiri Sum! Ada aku dan teman teman yang lain.” Aku mulai mengajaknya bicara kembali setelah anak anak meninggalkan kami.
“Siapa yang melakukan ini Sum?” desakku
“Kenapa kamu harus menutup nutupi dari kami? Ayolah Sum, tidak ada gunanya kamu bungkam seperti ini. Nantipun kami juga akan tahu” aku berkata sambil memegang bahunya pelan.
“Saya harus menjawab apa mbak?” jawab Sumi. Aku sudah menduga, ia pasti tak akan mau menjawab pertanyaanku. Ini sudah lebih dari setengah jam aku menjadikannya seorang sandera, supaya ia berterus terang tentang perubahan tubuhnya itu. Namun sia sia saja rupanya kerja kerasku untuk membujuknya. Sumi tetap bungkam dan menyisakan misteri yang membuat kami harus memutar otak sendiri untuk mencari jawabannya.
“Sudahlah Sum, istirahatlah!” kataku akhirnya
“Kapanpun kamu memerlukan bantuan, kami siap membantumu Sum”.
"Iya mbak, terimakasih.” Akhirnya hanya kata itu yang keluar dari mulut Sumi.
Sumi naik ke lantai dua, tempat dimana kamarnya berada. Begitu Sumi naik, anak anak kos yang lain langsung mengelilingi aku. Mereka penasaran, ingin mengetahui apa yang telah Sumi katakan kepadaku.
“ Gimana Mel, apa yang Sumi katakan?, ia benar benar hamil kan? Siapa bapaknya? ” Indra langsung memberondongiku dengan pertanyaannya.
“Iya Mel Gimana hasilnya?” Eldy menimpali pertanyaan Indra dengan tak sabar. Aku hanya menggeleng gelengkan kepalaku, tanda tak ada hasilnya pembicaraanku dengan Sumi. Anak anak kos yang lain melihatku dengan perasaan kecewa.
“Kalau Sumi beneran hamil, hamil dengan siapa ya?” Indra mulai memutar otaknya mencari tahu. Lalu mulailah kami semua menghubung hubungkan semua kegiatan Sumi dan kemungkinan siapa pria yang bisa menghamili Sumi.
“Dirumah ini hanya ada dua lelaki, Om Agus dan Hendry anaknya. Apa mungkin salah satu dari mereka berdua?” Era mulai dengan analisanya.
“Hus….ngawur deh kamu Ra! Mana mungkin? Tante Rosi begitu cantiknya, masak sich Om Agus bisa tergoda dengan Sumi” sahutku
“ Ya maaf, tidak bermaksud merendahkan Sumi, tapi dibandingkan dengan tante Rosi, Sumi itu tidak ada apa apanya Teman!” Aku berusaha membuat mereka berpikir realistis
“Ya bisa aja lho!! Secara Om Agus setiap hari pakaiannya hanya berkaos kutang dan celana pendek ha…ha….” Lha apa hubungannya Ndra ……. Ha…ha….ha… semua anak anak kos tertawa berderai derai membicarakan Om Agus. Sementara lupa sudah kami dengan penderitaan yang dialami oleh Sumi. Begitulah kami, semua anak anak kos selalu berkelakar satu sama lain, ketika kami berkumpul. Termasuk seringnya kami membicarakan keluarga pemilik kos yang memang banyak hal yang bisa kami bahas dari kehidupan keluarga mereka. Salah satunya adalah cara Om Agus berbusana yang tak lepas dari pengamatan kami, yaitu celana pendek dan berkaos kutang. Seolah Om Agus memang memiliki berlusin lusin celana pendek dan kaos kutang kegemarannya itu.

Om Agus pemilik kos kami adalah lelaki berusia 47 tahunan. Istrinya tante Rosi memiliki paras yang sangat cantik. Tante Rosi bekerja sebagai penata Rias, ia membuka salon disebelah kos kami. Sedangkan Om Agus sendiri tidak tahu apa pekerjaannya. Setiap hari yang dilakukan hanyalah mengurusi binatang binatang kesayangannya, anjing, ikan koi dan burung burung merpatinya. Tempat kos kami memang satu rumah dengan pemiliknya, tapi kami sangat nyaman tinggal ditempat itu. Selain tempatnya strategis berdekatan dengan jalan raya, fasilitasnya juga sangat menunjang kenyamanan kami sebagai anak anak kos. Om Agus dan tante Rosi memiliki tiga orang anak, Dua perempuan dan satu laki laki. Hendry anak pertamanya drop out dari SMA, Lusy anak keduanya masih kuliah semester tiga, namun kelihatanya sudah ada yang melamarnya. Anaknya yang ketiga perempuan masih kelas V SD, namanya Ana. Itulah sedikit gambaran tentang keluarga Om Agus. Kelihatannya seperti keluarga yang bahagia. Jadi mana mungkin kalau Om Agus yang telah menghamili Sumi?
Misteri tentang hamilnya Sumi, masih menjadi pembicaraan hangat diantara kami seminggu terakhir ini. Sedang Sumi sama sekali tak mau berterus terang tentang siapa lelaki yang telah menghamilinya. Meski setiap hari aku berusaha membujuknya, Sumi tetap tak bergeming.
“ Sum, kamu sehat kan? Kamu baik baik aja kan?”
Tanyaku suatu sore ketika ia sedang mencuci baju. Sumi menoleh dengan wajah sedikit tersenyum.
“Aha……ia tersenyum!” Baru sore ini kulihat senyum tersungging dibibirnya, setelah kami menginterograsinya seminggu lalu. Sebenarnya Sumi adalah sosok yang ramah dan menyenangkan. Namun kejadian yang menimpanya membuat ia sangat pelit senyum.
“ Saya nggak papa kok mbak, saya sehat sehat aja. Mbak mbak semua nggak usah kuatir dengan keadaan saya!”
Sumi sudah mau berbicara dengan kalimat yang lumayan panjang. Akupun merasa mendapat kesempatan untuk bertanya lebih lanjut tentang kehamilannya.
“Tapi Sum, kamu harus berterus terang mengenai siapa Bapak dari bayimu itu. Jangan kau tutup tutupi, aku dan anak anak kos yang lain akan membantumu.”
“Semua sudah selesai kok mbak, saya sudah trima dengan nasib saya” Sumi mulai buka suara lagi.
“Apa maksudmu Sum?” Aku mulai penasaran dengan jawaban Sumi
“Saya ini kan orang kecil mbak, saya cuma dianggap sampah yang gak ada artinya. Jadi nggak papa mbak, kehamilan ini akan saya terima dengan hati yang ihklas. Minggu depan saya pulang mbak, saya mau melahirkan dikampung. Terimakasih, mbak mbak sudah begitu baik dengan saya”.
Aku ternganga mendengar kalimat panjang yang diungkapkan oleh Sumi. Tiba tiba hatiku sakit sekali. Aku tidak bisa terima dengan keadaan Sumi. Tapi akupun tak kuasa memaksa Sumi untuk berterus terang, siapa laki laki keparat yang telah menghamilinya. “Siapa Bapak dari bayimu Sum? Apa kamu takut diancam oleh laki laki itu?” Sekali lagi aku mendesaknya.
“ Sudahlah mbak, saya ihklas kok”. Lagi lagi jawaban ihklas yang aku dengar dari mulut Sumi.
“ Sum, apa kamu sebenarnya sudah menikah dikampung?” Aku terus tidak puas dengan jawaban Sumi
"Saya tidak pernah menikah mbak! Dan saya tidak memiliki lelaki yang saya cintai!!" Sumi tiba tiba menangis sesunggukan. "Kamu diperkosa? Oleh siapa? Pacarmu?" “ Saya tidak punya pacar! Saya tidak mencintai siapapun mbak!”
Sebenarnya aku ingin mendesaknya sampai ia berterus terang. Tapi aku tak tega melanjutkan pertanyaan pertanyaanku yang masih menggunung itu. Sudah cukup jelas, Sumi hamil bukan karena kehendaknya. Bukan karena cinta, bukan karena ia rela ditiduri oleh seorang lelaki. Sumi terpaksa dihamili. Tapi oleh siapa? Siapa juga yang tega memperkosa Sumi? "Kenapa kau menutupi siapa laki laki itu Sum? Ia telah berbuat sangat jahat kepadamu!"
"Saya hanya tidak ingin menanggung penderitaan lagi setelah musibah ini, Mbak." Sahutnya lirih. Demi melihat penderitaan Sumi, akupun tidak berusaha mendesaknya lagi. “Sabar ya Sum! Semoga kamu bisa bertahan menghadapi penderitaan ini, jangan sungkan sungkan minta pertolongan dari kami ya Sum! Itulah akhirnya kata yang bisa aku sampaikan untuk menghiburnya. Lidahku sudah terasa kelu untuk membahas penderitaan Sumi lebih lanjut.
“ O ya, apa kamu sudah pamitan sama tante Rosi dan Om Agus?” tanyaku kembali
“ Sudah mbak!”
“ Om Agus mengijinkan kamu pulang?”
“Iya mbak, mereka semua mengerti keadaan saya kok”
“Jadi mereka juga tahu kalau kamu hamil Sum?”
“Tidak mbak! Mereka hanya bertanya, kok mendadak saya pulang?”
“Saya bilang, saya mau nemenin simbok dikampung”
Begitulah hasil pembicaraanku dengan Sumi disore yang menyedihkan itu. Aku kembali kekamarku dengan dada yang sesak. Sumi bukan perempuan nakal, ia tidak layak mendapat resiko ini. Aku sedih sekali dengan apa yang menimpanya. Usianya baru 19 tahun, ia hamil diluar nikah dan tidak seorangpun bisa dimintai pertanggung jawaban. Semestinya aku harus bisa memperjuangkan nasib Sumi, tapi aku sendiri tak berdaya. Toh Sumi tak pernah mau mengungkapkan siapa Bapak dari bayinya itu. Ihklas! Itulah alasan Sumi yang tak bisa masuk keakalku. Bagiku Sumi adalah perempuan istimewa. Ia tak mau menyebut satu namapun untuk Bapak bayinya itu. Semua beban dengan ihklas diterimanya dengan hati yang lapang. Tak banyak perempuan seperti Sumi. Betapa rasa ihklas Sumi telah mengalahkan penderitaan yang dialaminya.

Sore itu kami sedang duduk bersantai diruangan tamu. Sudah menjadi kebiasaan anak anak kos ditempat kami sehabis pulang dari kantor. Sumi baru saja pulang kekampungnya siang tadi. Namun kepulangannya masih menjadi misteri bagi kami. Tak banyak yang kami bicarakan, topik yang paling sering kami bahas adalah para artis yang makin aneh aneh saja tingkahnya atau para politisi yang bisanya hanya bicara soal rakyat tapi tidak mampu memperjuangkan nasib rakyat. “Wah kalau Sumi pulang….sementara ini kita mesti cuci baju sendiri dong!” Era berbicara sambil mengaduk susu coklat kesukaannya. “Nggaklah, besok Tante Ros, pasti dah dapat pengganti Sumi”. Sahutku sok tahu. “Jadi siapa yang menghamili Sumi ya?” Indra berbicara seolah pada dirinya sendiri, karena tak seorangpun mampu menjawab pertanyaannya. “Yah…..salah satu dari dua lelaki dirumah inilah, emangnya siapa lagi?” Eldy asal menyahut. Aku sebenarnya agak sependapat dengan Eldy, namun aku lebih suka menyimpannya sendiri. Aku tak punya nyali mengungkapkan secara terbuka kemungkinan kemungkinan siapa lelaki yang menghamili Sumi. Sumi saja yang dihamili merasa ihklas masak aku yang prostes, batinku sedih. “Hus….. Nanti kalau kedengaran sama tante Rosi, bisa bisa kita diusir keluar dari sini” kataku mengingatkan anak anak, supaya tidak asal ceplos aja membicarakan kehamilan Sumi. Anak anak tak menggubrisku, mereka semakin asal asalan memberikan prediksi, siapa laki laki yang telah menghamili Sumi. “ Kalau bukan Om Agus atau Hendry, apa Sumi di perkosa sama tukang ojek didepan rumah? “ “ Sumi mungkin sudah pernah menikah dikampung, terus suaminya datang tanpa sepengetahuan kita” “Pengunjung salonnya tante Rosi kali, kan banyak juga Om Om yang genit genit tuh!” “Tukang antar catering kita juga punya kesempatan menghamili Sumi lho?” “Pak kumis, tukang nasi goreng kita, Sumi kan sering kita suruh beli nasi gorengnya?” Begitulah anak anak kos saling bersahutan mengomentari kehamilan Sumi. Aku sendiri tercenung memikirkan nasib Sumi. Betapa hidup ini tak pernah adil. Sumi perempuan malang itu hamil tanpa suami. Tak ada yang mengaku jadi Bapak dari bayinya. Masa depan seperti apa yang tersisa untuk Sumi? Belum lagi caci maki yang akan diterimanya dari orang orang dikampung yang melihat keadaan Sumi yang hamil diluar nikah. Orang dikampung pasti akan menganggap Sumi adalah perempuan nakal, penganut sex bebas dikota, makanya ia hamil tanpa suami. Aduh…….membayangkan saja aku tak tahan dengan penderitaan Sumi. Tapi ihklas menerima kenyataan hidup, seperti yang Sumi katakan kepadaku? Hm….tak tahulah aku teman apa masih ada perempuan yang ihklas diperkosa tanpa mau menuntut lelaki keparat yang telah memperkosanya itu? Atau memang Sumilah satu satunya perempuan di bumi ini yang begitu ihklas menjalani penderitaan hidup?

Sore itu Kak Emmy, teman satu kosku yang paling senior pulang dengan mata yang masih sembab, bahkan air matanya belum benar benar mengering. Aku sedang membuat puding coklat diruang makan, tempat kita biasa berkumpul. Aku tak sengaja melihatnya menangis, jadi aku menyapanya. “Hai kak, baru pulang? Ia tidak menjawab. Demi melihatnya menangis, aku langsung mengikuti masuk kekamarnya. “Lho kak, kenapa? Sorry nggak bermaksud ikut campur, tapi Kakak boleh cerita ke aku kok”. “Barry… Barry Mel” “Iya kenapa dengan Barry Kak!” Barry itu adalah nama pacar Kak Emmy. “Kenapa sih Kak, Barry?” Aku mengulangi pertanyaanku. Dengan terbata bata kak Emmy menjawab “ Barry…… Barry, dialah yang menghamili Sumi!” “What?” Aku shock bukan kepalang. Aku langsung terduduk lemas di pinggiran ranjang yang ada dikamar Kak Emmy. Kepalaku mendadak pening berputar putar. Ini gila, ini benar benar gila! Bagaimana mungkin pacar Kak Emmy yang pendiam itu yang telah menghamili Sumi? Kemudian Kak Emmy menceritakan kronologis kejadian kenapa bisa Barry pacar Kak Emmy yang telah menghamili Sumi. Rupanya Kak Emmy meminta bantuan Barry untuk memperbaiki komputer dikamarnya. Siang itu Sumilah yang dititipi kunci kamar oleh Kak Emmy. Karena siang hari dikos selalu tidak ada orang, maka Barry punya kesempatan untuk memuaskan nafsu bejatnya itu memperkosa Sumi. Sebenarnya kos kosan kami sangat ketat, dan tak seorangpun laki laki diijinkan masuk sampai kekamar, kecuali sampai diruang tamu dan atas seijin tante Rosi. Namun hari itu iblis benar benar memberi kesempatan Barry mencelakai masa depan Sumi, hingga Sumi hamil. Hidup ini memang penuh dengan misteri. Siapa yang menyangka laki laki sebaik Barrylah yang telah menghancurkan masa depan Sumi. Padahal baru kemarin dugaan kami sudah mengarah kepada Hendry anak Om Agus yang secara bersamaan telah menghamili pacarnya juga yang masih duduk dibangku SMA. Barry bukan hanya menghancurkan masa depan Sumi, tapi ia juga telah menyakiti hati Kak Emmy. Teka teki kehamilan Sumi terjawab sudah. Namun atas permintaan Kak Emmy biarlah cerita ini hanya menjadi rahasia diantara aku dan ia. Aku sependapat dengan Kak Emmy, rasanya tak pantas saja aku mengumbar cerita tentang kebejatan pacar Kak Emmy. Kasihan Kak Emmy!. Aku akan melaksanakan mandat dari Kak Emmy, akan kusimpan sendiri pengalaman pahit dua wanita malang tersebut, Sumi dan Kak Emmy.

Jakarta 27 November 2009, Saat ku tulis kisah setengah nyata ini atas permintaan sebagian anak anak kos. (Memori kos Bratang Binangun Surabaya 1997, selamanya akan tetap menjadi kenangan)

WANITA ITU ............

Akhirnya aku kembali ketempat ini lagi, setelah berbulan bulan aku berjuang melawan perasaanku sendiri. Aku memang tidak bisa menahan perasaanku untuk tidak menemuinya lagi. Meskipun aku pernah berjanji untuk tidak akan menginjakkan kakiku ketempat ini. Namun ada bagian dari hidupku yang selalu menghimbauku untuk kembali lagi. Aku hanya ingin melihatnya dari jarak jauh, sekedar memastikan bahwa ia akan baik baik saja menjalani hidupnya.

Dari balik tembok yang terpisah dengan batas supaya aku tidak terlihat, aku bersembunyi seperti mata mata yang sedang mengintai mangsanya. Jantungku berdegup begitu kencang diburu oleh ketakutan, perasaan kuatir kalau kalau aku akan tertangkap basah saat berusaha melihatnya dari jarak jauh. Aku melihatnya, wanita itu sedang duduk sambil tertawa tawa bersama dengan beberapa orang muda yang tidak lagi sebaya dengannya. Aku tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang sedang mereka perbincangkan, tetapi sesekali mereka cekikikan, sambil sekedar bercubit cubitan tanda gemas dengan isi obrolan mereka. Meski halaman rumah itu tidak begitu asri, bahkan hanya ada satu pohon jambu yang tidak begitu besar menghiasi halamannya, namun kebersamaan itu seringkali terlihat hampir sepanjang hari. Ia memang sangat berbeda dengan wanita lain. Entahlah aku tidak pernah bisa menebak apa yang ada dalam isi kepalanya. Ia seperti hidup dalam dunianya sendiri. Tak seorangpun bisa memahami apa yang diinginkannya termasuk aku, orang yang paling dekat dengannya.
Aku segera menarik kepalaku dari balik tembok itu sambil menunduk untuk bersembunyi, ketika ku lihat ia seperti sedang menatap sesuatu kearahku. Aku berharap semoga ia tidak melihatku. Jantungku semakin berdegup dengan kencang. Kembali aku melihat wanita itu dari tempat persembunyianku, setelah degup jantungku berhasil kutenangkan. Wanita itu duduk dengan santai menyandarkan punggungnya melekat pada kursi rotan yang memang sudah nampak usang. Sedangkan kakinya ia angkat dan diletakkan diatas kursi yang lain. Sepertinya ia begitu bebas, mungkin sebebas perasaannya yang seolah olah tidak memiliki keterikatan batin dengan siapapun juga. Sejenak aku berpikir, apakah selintas saja ia pernah berpikir tentang aku? Setelah sekian lama kita tidak pernah bertemu. Entahlah aku tidak pernah berani berharap banyak tentang perasaannya kepadaku. Tiba tiba dari balik tempatku bersembunyi ada seseorang yang menegurku “ Hai baru datang ya? Mengapa bersembunyi disini? “ Udah lama tidak ketemu kan?” Aku terkejut sekali mendengar sapaan itu, takut kalau wanita yang sedang aku lihat itu mendengar dan melihat kearahku. “ Oh... iya bu, nanti saya pasti akan kesana!” Jawabku seraya mengarahkan tanganku menunjuk kearah wanita yang sedang bercengkrama didepan teras rumahnya itu, lalu aku menempelkan jari telunjukku keatas bibir, supaya ibu yang menegurku tersebut diam diam saja. “ Mereka terbiasa seperti itu, bahkan sampai larut malam” kata ibu itu lagi sambil berlalu. Tanpa sadar air mataku mengucur merembes jatuh dikedua belah pipiku. Betapa sakit melihatnya tertawa tanpa beban sedikitpun. Sepertinya ia memang bahagia. Kembali aku melihat dan mendengar wanita itu beserta dengan teman temannya tertawa lepas, suaranya membahana merayapi setiap rumah yang bersebrangan dengan rumah wanita itu. Aku hanya bisa menahan rasa sakit melihat adegan itu. Sakit bukan karena ia bahagia, tapi hatiku sakit karena aku tidak pernah tahu apa makna dibalik semua tawanya itu. Aku bahkan tidak pernah tahu, apakah ia benar benar hidup bahagia atau ia hanya pura pura bahagia.
Sejak aku menjelajahi belantara ibu kota negara tiga tahun terakhir ini, aku memang hanya mengunjunginya setiap tahun sekali. Itupun sebagai ritual bahwa sosoknya masih terus menghiasi seluruh sisa usia yang kumiliki. Hanya itu .......selebihnya tidak ada kenangan sedikitpun yang bisa kuingat darinya. Semuanya nyaris terlupakan, lebih tepatnya lagi ingin kulupakan. Meskipun aku tahu, keinginan itu tidak akan pernah terwujud, karena ia selalu ada dihatiku. Meskipun tidak ada kerinduan yang membuncah yang memintaku untuk datang melihatnya., namun langkahku selalu tak rela beranjak jauh dari hidupnya. Pertemuan demi pertemuan yang terjadi selalu terasa hambar. Tidak pernah lebih dari sepuluh menit kita berbicara sekedar berbagi rasa, setelah sekian lama kita tidak berjumpa. Aku tidak mengerti, kenapa ia tidak pernah mau berlama lama bersamaku? Namun pertanyaanku itu tidak pernah ada jawabnya. Saat aku bertanya kepadanyapun, ia hanya diam tanpa berbicara. Aku sendiri juga tidak merasa nyaman dan gembira saat bersamanya. Dan waktu yang akhirnya membuat rasa yang kita miliki semakin memudar. Tapi mungkin itulah yang diinginkannya, karena setahun yang lalu ia pernah menghimbauku untuk melupakannya.

Tiba tiba rentetan peristiwa yang membuatku pergi meninggalkannya itu kembali menghiasi kepalaku seperti sebuah film yang terulas dengan jelas. Setahun yang lalu aku meninggalkannya dengan kemarahan yang meledak ledak. Sore itu tanpa sengaja telingaku mendengarkan seluruh isi pembicaraanya bersama dengan teman temannya. Aku tidak pernah mengerti kenapa ia melakukan semua itu kepadaku. Ia sama sekali tidak pernah menganggapku ada dibumi ini. “ Aku akan tetap menjual rumah ini, tanpa ataupun dengan persetujuan siapapun! Ini rumahku, ayahnya mana pernah meninggalkan warisan untuknya! Aku tidak peduli kemana ia pergi setelah rumah ini aku jual! “ Kata kata seperti itulah yang mampir ditelingaku setahun yang lalu. Singkat, namun mampu membuat dadaku sesak. Hatiku sakit sekali, seolah dadaku tak mampu lagi untuk bernafas. Apa yang ia katakan telah melukaiku. Padahal seluruh hidupku telah kuberikan untuknya.

Yah......wanita yang telah mengatakan kalimat itu adalah ibuku. Orang yang merembesi benih rahimnya dengan nyawaku. Tapi sepertinya ia tidak pernah menginginkanku. Entahlah ....... ia seolah tidak memiliki ikatan batin sama sekali denganku. Bertahun tahun aku hidup tanpa rasa peduli darinya. Jarang sekali ibu mengajakku bicara. Tatapannya selalu penuh dengan kebencian saat melihatku. Selama ini ayahlah yang berperan ganda, menjadi ayah sekaligus ibu buatku. Meski begitu aku tidak pernah membencinya. Selama hidup, ayah memberiku limpahan kasih sayang yang lebih dari cukup, hingga aku tak pernah merasa perlu seorang ibu. Aku tidak mengerti mengapa ibu bersikap seperti itu terhadapku, padahal aku adalah anak semata wayangnya. Sikap ibu benar benar misteri yang tak pernah mampu aku pecahkan. Suatu kali aku bertanya tentang sikap ibu itu kepada ayah, namun ayah juga tidak memberiku penjelasan yang membuatku puas. Ayah hanya bilang “ Apapun yang ibu lakukan kepadamu, kau tak boleh membencinya Rin” Dan sejak itu akupun tak pernah lagi bertanya ataupun menghiraukan ibu. Bagiku bersama ayah, sudah cukup membuatku bahagia.

Namun setelah ayah meninggal, tiba tiba aku merasa perlu ibu. Aku perlu ibu sebagai teman sekaligus sahabat untuk menjalani sisa hidup ini. Aku merasa kewajibanku adalah melindunginya, mencintainya dan menjaganya. Sayang semua yang aku lakukan itu tidak pernah berarti apa apa bagi ibu. Ibu tetap ibu yang tak pernah berubah, meski ada ataupun tidak ada ayah. Ia tetap tak ingin hidup bersamaku seperti yang ibu ibu lain lakukan terhadap anaknya. Bahkan hatinya tak sedikitpun tersentuh dengan semua sikapku yang selalu berusaha menyenangkannya. Ia begitu membenciku. Sampai sampai ia ingin aku melupakannya. Bahkan rumah yang seharusnya menjadi tempat ketika aku pulang, itupun ingin dijualnya tanpa menghiraukan keberadaanku.
Selama ini aku ingin sekali berbakti terhadap wanita yang telah melahirkanku itu. Namun sikap ibu membuat hatiku kecewa. Dan yang paling membuat hatiku sakit adalah diam diam ibu menjalin hubungan dengan pria lain. Ibu benar benar tak menghiraukan keberadaanku. Kalaupun tiba tiba ibu berbuat baik, itu hanya karena ia menginginkan sesuatu dariku. Aku sadar, aku hanya bisa memuaskan jasmaninya dan tidak batinnya. Ibuku berjalan dalam hidupnya sendiri. Tak seorangpun tahu apa yang sebenarnya diinginkannya. Ia melakukan apa saja yang ia mau lakukan tanpa penah peduli bahwa apa yang telah diperbuatnya itu melukai perasaanku sebagai anaknya. Aku hanyalah anak yang terlahir dari rahimnya, tapi tidak pernah ada dalam hatinya.
Sebenarnya ibuku adalah perempuan dengan wajah dan sosok yang menyenangkan. Tapi bagiku peranggai ibuku bukanlah gambaran ibu baik yang selama ini selalu iagung agungkan oleh manusia dibumi ini. Aku tidak pernah merasakan bagaimana rasanya dipeluk oleh ibuku seperti yang ibu ibu lain lakukan terhadap anaknya. Akupun tak pernah mengerti kenapa ibuku melakukan itu terhadapku. Kadang aku merasa penat dengan beban hidupku. Pernah terbersit dibenakku untuk melupakan saja ibuku, namun aku tidak pernah mampu melakukannya. Apalagi sejak ayah meninggal, semua terasa berat berada dipundakku. Sehinggga kesedihan yang teramat sangat itu membuatku lupa untuk berbagi, bahkan dengan kerabatku yang lain. Aku telah terbiasa berpikir bahwa setiap masalah harus kuhadapi sendiri. Dan aku tetap merasa ibuku adalah wanita terbaik yang pernah kumiliki.

Sekali lagi aku menatapnya dari kejauhan, entahlah...... sebenarnya aku tidak pernah tega meninggalkannya, namun aku tak berdaya, aku lelah mengikuti jalan hidupnya yang memang tak pernah seirama denganku. Semua orang yang memiliki pertalian kerabat dengannya, menghimbauku untuk tidak terlalu peduli kepadanya. Bagi mereka, yang telah aku lakukan sudah lebih dari cukup sebagai sebuah pengabdian seorang anak terhadap ibunya. Tidak akan ada yang menganggapku anak durhaka. Namun aku tidak pernah bisa melakukannya. Tubuhku dapat terbang tapi jiwaku tidak. Aku tidak dapat memaafkan diriku jika aku harus melupakannya. Meskipun berulang kali para kerabatku selalu menganggapku bodoh karena aku terlalu mempedulikannya.

Kutatap lagi rumah yang membesarkanku itu untuk yang terakhir kali.. Hampir tak berubah. Pohon jambu yang masih berbuah. Pintu kayu bercat coklat yang sudah nampak begitu usang. Kursi rotan yang dipajang didepan teras. Semua masih sama, tidak ada yang berubah. Ibukupun masih sama, ia sama sekali belum berubah. Dan aku juga masih tetap menjadi orang asing dalam hidupnya. Pelan pelan kutinggalkan rumah yang tak pernah memberiku kenangan baik itu dengan air mata yang hampir tumpah. Entah sampai kapan aku bisa menjadi anak yang sesungguhnya bagi ibuku. Anak yang dilimpahi dengan kasih sayang yang tulus seperti ibu ibu didunia ini. Aku sangat ingin memeluknya, pelukkan seorang ibu yang hampir tak pernah aku rasakan itu. Maka seperti saat ini, aku hanya bisa menatapnya dari kejauhan. Sambil menahan hatiku yang selalu terluka bila mengingatnya. Sepertinya ia bahagia dengan hari hari yang dilaluinya. Yah….semoga! Karena bagaimanapun aku tak kan pernah menghapus takdir bahwa ia tetaplah ibu yang membuatku ada dibumi ini dan ibu yang tetap harus aku cintai bagaimanapun ia.

Jakarta, 22 Desember 2007

MUSAFIR CINTA

Aku adalah seorang pengembara cinta, itu sebabnya aku belum mau terjerat dengan tali pernikahan. Cinta memang telah membuatku bodoh. Tapi aku terlalu berhati hati, supaya aku tidak tergelincir dan jatuh ke pelaminan. Aku tak ingin mahluk bernama cinta itu menyergapku dan membantingku ke jurang pernikahan secepatnya.

”Kamu harus segera menikah, apapun bentuknya itu!” Ibuku selalu mengulang pernyataanya itu hampir setiap bertemu denganku. Entah sudah berapa kali ibu memberikan pernyataan serupa itu. Memang kata katanya tidak selalu sama persis, akan tetapi intinya selalu sama, yaitu menganjurkan aku untuk segera menikah. Lama lama aku jadi terbiasa dengan omelan ibuku, yang sudah seperti kaset rusak yang diputar berulang ulang dengan suara yang sama.

” Apa aku harus menikah, Ma? " tanyaku suatu kali kepada ibu, saat dia mulai lagi mendebatku tentang kehidupan pernikahan yang selalu ingin ku hindari.

"Harus…!" jawab ibu dengan cepat. " Supaya kau tidak kesepian nantinya.
Lihatlah! semua adik adikmu sudah menikah, tinggal kau sendirian. Apa kau tidak ingin seperti mereka?”

"Aku mau ma, seperti mereka…..," jawabku. Aku memang masih punya keinginan untuk menikah. Hanya saja aku belum menemukan laki laki yang tepat untuk mendampingiku. Berkali kali cinta telah membuatku jatuh, tapi tak sampai membuatku terpeleset ke pelaminan.

“ Apakah kebahagiaan itu hanya ada dalam sebuah pernikahan, Ma?” tanyaku kembali kepada ibu. Ibuku terdiam, dia asyik menjahit baju ayah yang robek jahitannya. Aku tahu ibuku diam karena dia tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaanku. Dan aku sengaja memberikan pertanyaan itu untuk mengakhiri perdebatan kita.

Aku tercenung sejenak. Teringat kembali satu persatu adikku yang telah menikah beberapa tahun terakhir ini. Diantara lima bersaudara itu, hanya aku yang belum menikah, padahal aku adalah anak tertua dalam keluargaku.

“ Mama hanya ingin melihatmu bahagia” kembali ibu mengangkat mukanya melihatku. “Tapi tidak harus menikah kan, Ma?” Ibu tidak menyahutiku lagi, matanya menyorotkan kesedihan dan aku tahu itu.

Aku sangat memahami sikap ibu, dan keinginan ibu yang menganjurkan supaya aku secepatnya menikah.

Ibu selalu bilang “ Pernikahan akan membuatmu bahagia, kau akan memiliki teman hidup yang bisa menjagamu selamanya”. Terus terang, aku membenarkan pendapat ibu. Meski tidak semuanya benar apa yang ibu ceritakan tentang sebuah pernikahan. Ibu memang sesekali memaksaku untuk berhenti menjadi pengembara cinta. Namun aku juga tetap keukeh tak pernah mau sembarangan untuk dijodohkan. Bertahun tahun aku bertatih tatih melintasi jalanan terjal dan berliku, berteman dengan cinta dan harapan. Aku menjadi musafir cinta, yang melangkah tanpa kepastian. Belum ada jodoh yang membuatku berhenti untuk melangkah.

Sebagai musafir cinta, begitu banyak hal yang aku alami dan kupahami dalam hidup ini. Terutama tentang hidup berkeluarga. sungguh tak terlalu sulit aku mempelajari apa itu hakikat perkawinan, rumah tangga bahagia, keluarga sakinah dan sebangsanya. Lewat pernikahan teman temanku, aku banyak sekali mendapat ilmu tentang hidup berumah tangga. Meskipun aku belum menikah, tetapi aku sering menjadi tempat berkeluh kesah dari semua temanku yang rumah tangganya bermasalah. Maka jadilah aku manusia paling pintar dalam urusan berkeluarga diantara teman temanku yang lain.

Dulu, aku pernah membayangkan sebuah pernikahan yang sangat indah, tak sedikitpun aku merasa takut menghadapi pernikahan. Waktu itu aku sedang menjalin cinta dengan lelaki yang kutemui di Gerejaku. Saat itu aku baru saja lulus menjadi sarjana bahasa inggris. Aku memang menyukai segala macam sastra, jadi aku mengambil jurusan itu. Kebetulan Benny, laki laki itu juga mengambil jurusan yang sama denganku. Waktu itu, entah bagaimana, aku dan Benny bisa terlibat diskusi perihal tentang drama dan juga sastra. Dari diskusi itulah, perkenalanku berlanjut. Benny ternyata orang yang sangat rapi, humoris namun sedikit sensitif. Bersamanya aku sangat bahagia, hari hari indahpun sempat menjadi milik kita. Karena itulah kami berdua merencanakan sebuah pernikahan. Namun disaat kami berencana mempersiapkan pernikahan, justru konflik konflik kecil itu muncul tanpa kami sadari. Hanya karena masalah sepele, akhirnya dia memutuskan untuk meninggalkanku. Mungkin memang kami hanya berjodoh menjadi teman. Dengan segala keterpaksaan aku menerima keputusannya. “Maafkan aku May! Aku bukan laki laki yang tepat untukmu. Telah berulang kali aku mencoba untuk sejajar denganmu, tapi aku tak pernah bisa. Kau adalah wanita yang tak pernah butuh laki laki. Mandiri dan berkemauan keras. Aku tak mau menjadi lebih rendah darimu hanya karena kepintaranmu bekerja serta bersosialisasi. Jadi sebaiknya kita jalani kehidupan kita masing masing. Aku yakin, kau akan mendapatkan lelaki yang lebih baik dariku”. Itulah ungkapan hatinya yang panjang dan sangat mengejutkanku. Aku tak pernah menyangka Benny akan berpaling dariku. Aku pikir pengembaraan cintaku akan berakhir bahagia bersama dengan Benny. Namun hanya Tuhanlah yang tahu.

Hendry? Ya, laki laki itu bernama Hendry. Lelaki itu adalah pacarku selanjutnya. Aku bertemu dengannya, lagi-lagi dalam sebuah acara gereja, ketika ada acara retreat di gerejaku. Waktu itu pagi nan dingin, di daerah puncak, gerejaku mengadakan retreat untuk wanita dan pria lajang. Hendry diajak oleh seorang teman untuk mengikuti acara tersebut. Setelah acara itu berakhir, maka kamipun saling menjalin hubungan. Tak seperti Benny yang humoris, Hendry adalah lelaki pendiam. Namun dasar kerohaniannya sangat kuat. Sering kami terlibat dalam diskusi diskusi tentang Tuhan dan pentingnya Tuhan dalam hidup kita. Sehingga sering aku dibikin kewalahan ketika berdebat dengannya. Aku memang tak terlalu pandai berbicara tentang agama, Tuhan dan kerohanian. Sehingga seringkali pembicaraan kami tak seimbang. Lama kelamaan aku merasa tak pantas bersanding dengannya. Berdasarkan alasan itulah yang akhirnya membuatku memutuskan tali cinta. Padahal aku sudah mulai kerasan tinggal dihatinya.

"Hendry, kecerdasanku adalah maksimal. Namun tampaknya aku kewalahan meladenimu diskusi tentang Tuhan dan kerohanian. Semangat hidupku terlalu besar, sayang kurang diimbangi dengan kerohanian yang mendalam. Aku hidup lurus dan apa adanya, tapi tak terlalu dalam dibidang kerohanian. Jadi sepertinya kita tak berjodoh". Demikian pengakuanku kepada Hendry suatu malam, setelah kami selesai menghadiri Ibadah di gereja. "Tapi kau pelaku yang baik, Woman in action. Kau mampu menjadi konselor bagi semua orang yang membutuhkan pertolongan. Aku bersyukur dipertemukan oleh Tuhan denganmu”. Begitulah Hendry merasa keberatan dengan keputusanku. Namun aku telah memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami, maka jadilah Hendry yang pasrah menerima keputusanku. “Kalau kita berjodoh, Tuhan pasti akan mempertemukan kita, Hen!” Demikian hiburku pada hari yang lain saat kita bertemu diacara amal Gereja, sambil dia membantuku melipat lipat pakaian yang akan dibagikan.

Setelah itu aku selalu berpindah pindah hati, dari laki laki yang satu ke laki laki yang lain. Dan beberapa dari lelaki itu selalu membuatku terluka. Aku tak mengerti kenapa cintaku selalu jatuh kepada orang yang salah. Padahal aku adalah perempuan yang kesetiaannya tak perlu diragukan lagi. Aku bukan tipe perempuan yang suka berkhianat. Namun mungkin takdir hidup belum berpihak denganku, sehingga aku masih saja jadi pengembara cinta. Aku menekuri diriku dalam kesepianku, apakah salah kalau aku sampai saat ini masih menjadi musafir cinta? Berkelana mencari hati yang tepat untuk bersandar. Aku hanya ingin kenyamanan dalam hidupku, dan itu hanya bisa dilakukan kalau aku telah menemukan seseorang yang tepat untuk menjadi teman hidupku.

Selanjutnya, ku biarkan cintaku mengalir begitu saja. Tak apalah semuanya mengalir alamiah. Hidup…….cinta……..dan kebahagiaan semua akan tetap menjadi milikku. Tidak harus terdaftar dalam sebuah lembaga perkawinan. Apa benar kita tak kan pernah bahagia, hanya karena tidak menikah, kawan? Kau tentu telah tahu jawabannya, seandainya kau memiliki nasib yang sama denganku.

Aku tak peduli apapun omongan orang tentang pengembaraanku ini. Tak juga aku peduli dengan usia yang terus menerus memburuku. Aku hanya ingin menciptakan kebahagiaanku sendiri. Bagiku kebahagiaan itu seperti setetes warna yang paling bersinar diantara warna warna lain yang lebih kusam. Bila seseorang mampu meraih segala sesuatu yang diimpikannya, tentu akan merasa bahagia. Begitulah kehidupan! Kadang aku merasa lelah juga menjadi musafir cinta, berkelana dari hati yang satu kehati yang lainnya. Seolah aku memang tak pernah sepadan dengan manusia yang lainnya. Sebenarnya aku juga ingin hidup layak seperti umumnya orang lain. Menikah, berkeluarga, dan beranak pinak seperti yang diimpikan semua orang. Namun apakah itu semua adalah hakekat hidup yang sesungguhnya, kawan? Ah…..tak tahulah aku! Aku hanya tahu bahwa hidupku selalu saja bahagia, ada ataupun tanpa seseorang yang disebut pasangan hidup. Jangan kau menganggap pernyataanku ini naif, hanya karena aku memang belum memiliki pasangan hidup, kawan! Jadi aku bisa mengatakan hal seperti itu. Tapi kau boleh percaya padaku kawan! “Kebahagiaan hidup tidak hanya ada pada sebuah pernikahan!” Sudah terlalu banyak neraka neraka yang tercipta dalam sebuah keluarga. Jadi janganlah terlalu tergesa kau menambah satu neraka lagi. Carilah orang yang tepat dan ciptakan surga dalam berkeluarga. Bukankah itu yang selalu kita impikan, kawan?

Beberapa tahun terakhir ini, secara khusus aku memang memohon kepada Tuhan, agar aku diberikan seseorang yang tepat. Kemudian aku berhenti menjadi musafir cinta. Tuhan pasti telah menyediakan jodoh yang tepat buatku.
Perjalanan pengembaraan cintaku memang terkesan dan begitu indah. Tak ada cacat, semua berjalan baik dan tenang. Hanya sedikit ombak, itupun dari teman teman dan keluargaku yang menitik beratkan bahwa hanya dengan menikah , seseorang akan hidup bahagia. Kunikmati pengembaraanku ini. Memang sedikit aneh dan mengundang rasa kasihan. Tapi begitulah kehidupan, ada yang pro dan ada yang kontra.

Aku adalah musafir cinta, dan aku sangat bahagia. Tak tahu kapan jodoh akan membuatku berhenti untuk melangkah. Namun aku sangat menikmati hari hari kebebasanku ini. Luapan kegembiraan dan kebahagiaanku seolah tak terbatas. Tidak ada yang membatasi. Tidak ada garis lurus yang memisahkan. Tidak seperti langit dan bumi yang dibelah di cakrawala. Segalanya serba los, bebas dan tak terbatas. Luar biasa. Entah sampai kapan semua itu harus diakhiri.
Mungkin sampai aku merasa menemukan laki laki yang sudah matang dan tepat yang bisa mengerti tentang kehidupanku. Semua keegoisan, kesepian, kebebasan, memang harus diakhiri ketika Tuhan memberiku jodoh yang tepat. Aku berharap tak selamanya menjadi musafir cinta, meski aku sangat menyukai kebebasanku. "Ini hanya sementara…," Aku yakin Tuhan telah menyediakan jodoh yang tepat untukku. Sehingga aku harus berhenti dari pengembaraanku. Meski berat dan dipenuhi ribuan teka-teki, aku berusaha meyakini janji Tuhan itu dalam hidupku.


Jakarta, 23 September 2009,

SESUATU YANG MANIS

19 September 2009 Pkl. 00.01 WIB Dini hari yang gelisah

Aku sengaja tidak ingin tertidur cepat malam ini. Ini adalah hari istimewaku. Aku ingin menyambutnya dengan semangat dan jiwa yang penuh pengharapan. Tak peduli penghuni bumi lainnya sudah terlelap. Aku masih saja semangat dan tak sedikitpun mataku mengajak untuk diistirahatkan. Angin malam menembus kulit ariku lewat kisi kisi jendela kamarku, dingin terasa menusuk. Sejenak hatiku terasa ringan ketika merasa seharusnya ada sesuatu yang "manis" untukku hari ini. Untuk itulah aku tak ingin tertidur malam ini. Aku ingin menunggunya sampai lewat pukul 01.00. Supaya esokpun aku bisa menyongsong hariku itu dengan perasaan yang nyaman dan tetap semangat. Aku menghidupkan note bookku untuk melihat dari mana dan siapa siapa saja yang telah mengingat hari istimewaku. Dengan antusias aku melihat ada beberapa ucapan selamat yang ditujukan untukku lewat alamat Face bookku. Ada juga beberapa SMS yang masuk berisi ucapan selamat ulang tahun. Lenny teman kosku di tempat yang lama menuliskan ucapannya pertama kali di Face Bookku , kemudian disusul oleh Ade teman kerjaku dimotorola. Nike, sahabatku yang tak pernah berpaling menelponku sambil menggodaku mengenai orang spesial yang akan menemaniku melewatkan ulang tahunku. Kemudian Dony, sahabat lama yang baru menemukanku kembali , juga menelponku, rupanya dia juga masih mengingat ulang tahunku. Waktu telah menunjukkan Pkl. 01.30, aku putuskan untuk segera tidur. Sementara aku harus melupakan sesuatu yang “ manis “ itu, karena meski waktu telah lewat satu setengah jam melewati hariku, namun yang aku tunggu tak muncul juga. Aku ingin esok bisa bangun dengan tubuh yang segar, meskipun ku akui, akupun tertidur dengan perasaan yang sedikit gelisah.

19 September 2009 Pkl. 08.00 WIB Pagi hari yang cerah

Aku memang bangun tidak terlalu pagi, karena semalam aku baru tertidur pkl. 02.00 WIB. Aku tersenyum didepan cermin. Ada perasaan nyaman yang menembus dihatiku. Perasaan itu membuatku segera terbang ke kamar mandi. Kucuran air membuatku terasa lebih segar. Lalu kukenakan pakaian dan berkaca. Hm…..…bagaimanapun aku tetap tak bisa menutupi lemak yang bertaburan pada tubuhku, meskipun aku telah berusaha untuk menguranginya. Akhir akhir ini aku melakukan diet ketat untuk menyongsong hari dimana aku pernah dilahirkan itu. Yah… ingin kuhargai tubuhku dengan menghilangkan beberapa kilo lemak dari tubuhku. Supaya badanku terasa ringan dan sehat. Untuk itu setiap hari aku hanya menyantap telur, tomat, bayam, selada disertai dengan teh pahit. Aku membuat tubuhku tersiksa selama seminggu ini. Hasilnya lemak tubuhku memang berkurang 4 kg. Tapi berat ideal yang aku inginkan, tentu saja jauh dari yang aku mau. Jauuuuuuuhhhhhhh buangget!! Saat aku selesai berdandan untuk memulai kegiatanku hari ini, aku tersenyum ketika melihat banyak SMS masuk yang berisi ucapan selamat ulang tahun. Lalu kembali aku membuka note bookku, puluhan ucapan bernada sama menghiasinya. Mereka adalah teman teman yang mengingatku. Meski begitu banyak SMS yang masuk, dan puluhan ucapan selamat pada face bookku, tetapi aku masih menunggu dari seseorang. Ah….kenapa dia belum ingat juga meski pagi akan segera berlalu? Aku segera berangkat ketempat kerjaku, setelah membereskan note book dan sekali lagi berbenah diri. Aku ingin tampil secantik mungkin hari ini.


19 September 2009 Pkl. 12.00 WIB Siang hari yang resah

Aku duduk diam memperhatikan para tamu yang sedang makan diwarung yang aku kelola disebuah Mall, sambil sesekali tersenyum kepada pelanggan yang kebetulan melihat kearahku. Suasana warung kebetulan ramai sekali, biasalah long week end dan kebetulan liburan menjelang lebaran. Anganku terbang ke dunia lain. Tak pernah aku duga sebelumnya, kalau aku akan tersesat dalam dunia kuliner ini. Semua terasa ajaib terjadi dalam hidupku, karena sebelumnya aku adalah wanita karier yang selalu bekerja dibalik meja. Namun saat ini aku hanyalah seorang wanita biasa dengan sebuah mimpi rahasia yang hanya aku sendiri dan Tuhan yang tahu. Lamunanku pecah ketika tiba-tiba seseorang pelanggan menghampiriku untuk membayar. “Ada tambahan lain Bu!” aku meneliti nota pembayaran, kemudian mulailah aku ketik semua pesanannya. Aku menggantikan kasir yang bertugas. Ini biasa aku lakukan kalau warung dalam keadaan ramai. Karena kasir yang biasa bertugas, aku perbantukan untuk melayani tamu tamu yang datang. Pekerjaan yang asyik, lebih menyenangkan dibandingkan dengan harus sepanjang hari berada dikantoran. “Terima kasih bu! Lain waktu kembali lagi ya?” pintaku kepada setiap pelanggan begitu mereka selesai membayar sembari tak lupa ku selipkan sebuah senyuman. Olala! Inilah pekerjaan yang aku pilih. Tapi aku bahagia menjalani hari hariku. Bertemu dengan banyak orang dan selalu memberikan mereka senyuman.
Mungkin pekerjaan ini tak terlalu istimewa untuk kebanyakkan orang. Tapi aku sangat menikmatinya. Tak seperti dulu saat bekerja dikantoran, sekarang aku perempuan dengan wajah tanpa bedak, dengan baju sederhana, dan selalu berbau aroma masakan menguap dari tubuhku. Karena setiap hari aku harus bergelut dengan menu menu makanan yang ada diwarungku. Tak mengapa! Aku tetap bisa bahagia dan mengisi hariku dengan sesuatu yang berarti. Aku mengamati para cleaning service yang sedang bertugas membersihkan elevator yang ada didepan warungku. Mereka beraktivitas dengan ekspresi yang bebas. Mereka menyikat lantai, mengepel, mengambil sampah sampah kecil yang dibuang sembarangan oleh para pengunjung mall. Sesekali mereka saling tertawa terbahak bahak, entah apa yang sedang mereka bicarakan. Sepertinya tidak ada himpitan ataupun kesusahan yang menekan batin mereka? Ataukah kesusahan sudah begitu akrab menjadi sahabat mereka sehingga tidak perlu lagi untuk ditangisi? Aku berpikir diam-diam tentang mereka. Sekelompok anak anak ABG masuk kewarungku, suasana jadi sedikit riuh. Begitulah anak anak ABG selalu memiliki segudang keceriaan, seolah hidup ini memang tanpa beban. Betapa kontrasnya dua kehidupan yang sedang aku amati ini. Para cleaning servis itu juga masih ABG, tapi mereka mungkin kurang beruntung saja nasibnya. Aku sempat berpikir, kenapa harus ada dua kehidupan yang begitu berbeda? Wuaaalah………….selalu saja aku begitu suka memperhatikan kehidupan orang lain. Kembali aku berpikir tentang hariku hari ini. Apakah aku bahagia? Belum sempat aku jawab pertanyaan batinku, rasa pahit itu menyeruak tanpa permisi ke dalam dadaku karena ring tone ponselku yang kutunggu sama sekali belum berbunyi. Sesuatu yang “manis” itu belum juga hadir.

19 September 2009 Pkl. 15.00 WIB Lewat tengah hari yang sedih

Ini sudah lewat setengah hari, begitu aku membatin dalam hati dengan perasaan gelisah. Tetapi kenapa yang kuharap dan kutunggu belum juga mengirimkan ucapan? Bahkan telah lewat jam makan siang, aku mulai merasa putus asa dengan penantianku. Apakah aku terlalu berharap banyak hanya untuk sebuah ucapan selamat ulang tahun dari seseorang ? Mungkin! Karena sejak detik menginjak kepada tanggal 19 september, dihatiku selalu penuh harap mendengar ucapan dari seseorang itu. Tengah hari, suasana warung memang agak sepi. Kembali aku membuka note bookku, sambil menikmati makan siangku. Hari ini aku memasak soto daging untuk karyawan yang ada diwarungku. Menikmati soto daging yang panas, lumayan juga untuk menghangatkan hatiku yang dingin. Kuhabiskan siangku dengan menikmati rasa hangat soto masakanku. Aku melihat banyak sekali pesan pada face bookku. Rasa haru menyeruak dalam hatiku. Aku bersyukur, masih begitu banyak kawan yang memperhatikanku. Lalu kenapa aku masih saja berharap seseorang itu mengingatku? Entahlah……..seseorang itu memang telah menyihirku, hingga aku tak berdaya menahan perasaanku. Mungkin perhatiannya selama ini kepadaku hanya sebatas teman. Tapi aku merasa itu terlalu berlebihan untuk seorang teman. Dia membuatku nyaman saat bersamanya. Dia seolah menawarkan asa ditengah keputusasaan yang tengah melandaku. “Kapanpun kamu perlu sesuatu, datanglah padaku! Aku akan selalu siap untuk menolongmu”. Begitulah dia menawarkan bantuannya kepadaku. Alangkah nyaman dan menentramkan kata kata itu. Apakah aku yang terlalu GR atau terlampau senang dengan tawarannya? Sampai aku selalu berangan angan, dia akan selalu ada untukku. Sejak itu aku selalu saja merasa menjadi orang yang bodoh bila berhadapan dengannya. Aku selalu merasa ingin menikmati setiap detik yang kulalui bersamanya. Sementara selama ini aku tak pernah tahu seperti apa perasaannya kepadaku. Pernah aku berpikir untuk bertanya saja tentang perasaannya kepadaku. Tapi segera kuurungkan niatku itu. Aku hanya merasa takut, dia justru akan menjauhiku setelah apa yang akan aku katakan. Akupun tak ingin mendapat kesan sebagai wanita murahan dihadapannya. Aku belum siap kehilangan sosoknya, meskipun hubungan kami masih kelihatan abu abu, tanpa kepastian.

19 September 2009 Pkl. 18.00 WIB Sore hari menjelang malam yang semakin resah

Sebenarnya aku ingin pulang kerumah, menghabiskan waktu untuk menunggu salam selamat ulang tahun itu. Tapi kubatalkan keinginanku. Aku masih belum berniat pulang. Biarlah aku menanti dalam keramaian suasana warung yang banyak dikunjungi oleh pelanggan, dari pada menunggu dalam sepi. Warung ramai sekali! Tetapi hatiku masih saja senyap, ada rasa ngilu bertebaran didalamnya. Pada sebuah buku belanja pengeluaran warungku kutuliskan. Cinta………siapa yang pernah mengundangnya untuk datang? Kalau kedatangannya selalu saja membuat resah? Lalu sesegera aku menghapus tulisan itu ketika sadar melandaku, rasanya lucu kalau sampai karyawan diwarung melihat tulisan itu. Biasanya aku memang lebih suka berada diwarung setiap hari, namun kali ini aku benar benar tidak bisa bertoleransi dengan perasaanku. Ku lihat telepon selularku masih dalam keadaan yang sama. Tidak ada message, tidak ada miscall, tidak ada mailbox................benda tak bernyawa itu benar benar tak bersuara. Resah benar benar meliputiku. Tiba tiba temanku linda membawakan kue ulang tahun untukku. Black forrest…………hm…. Lumayan juga, manisnya bisa mengurangi keresahan hati. Diantara resahku Tuhan masih saja menyelipkan sedikit kebahagiaan dengan menghadirkan orang orang yang baik dalam hidupku. Thanks God for everything in my life.

19-09-2009 22.00 Malam hampir berakhir
Aku terbaring dengan hati yang hampa, diruangan kamarku yang lenggang. Disamping ranjang tidurku ada sebuah meja kecil, disitu note bookku sengaja ku nyalakan dan telepon selularku masih dalam keadaan on berada disebelahnya. Masih saja kuletakkan harapanku ditempat yang tertinggi. Aku masih menunggunya, telpon berisi ucapan selamat ulang tahun dari seseorang yang hampir beberapa waktu ini telah mengisi hari hariku. Akalku menyuruh untuk melupakan saja seseorang itu. Namun hatiku tetap berharap dia akan menelponku sebelum habis masa hari indahku ini. "Hari ini belum habis, dia pasti mengingatku!” begitulah harapku. Meskipun kenyataannya aku hanya menyimpan harapan kosong belaka. Terbukti tetap tak ada sesuatu yang “ manis” itu sampai tanggal 19 september ini berakhir.


19-09-2009 00.01 Memasuki tanggal 20 September 2009
Sembilan belas september dua ribu sembilan lewat sudah.
Tidak ada apa-apa di telepon selularku maupun pesan di face bookku . Benda komunikasi canggih abad millennium itu tetap diam tidak bergerak. Aku tidak tahu apakah aku harus tertawa atau menangis untuk kebodohanku sepanjang hari menunggu sesuatu yang “manis” yang tak kunjung datang itu. Dia yang aku tunggu tak kunjung memberikan ucapan. Tiba tiba ada sesuatu yang hangat membasahi pipiku, ketika aku melukis rupanya, menuliskan namanya dan menyebutnya dalam relung hatiku……...jadi teringat lagu jadul tahun 80 an yang entah siapa penyanyinya, Iis Sugianto, Dian Picessa atau Nia Daniati…tak tahulah aku. Kalau tidak salah liriknya begini …………….

Bagaimana mungkin ku percaya padamu
Sedangkan ulang tahunku…..Kau tak ingat lagi ….
Bagaimana mungkin ku berharap padamu
Sedangkan kata kataku….. Bagai angin lalu…………..

.Ku tutup hariku dengan hati sedikit resah. Tapi itu tak boleh berlangsung lama. Esok aku harus bangun dengan semangat yang baru, menjalani hidup dengan lebih baik lagi. Akalku menyuruhku untuk melupakan saja seseorang itu dalam hidupku. Meski terasa sayang, tapi harus! Aku tak mau hatiku terombang ambing hanya karena sebuah ketidak pastian. Cinta tanpa komitmen itu akan meluluh pada apapun. Jadi semua pasti akan segera berlalu. Kesedihan dan kebahagiaan adalah hal biasa dalam hidup ini. Meski yang kuharapkan tak sesuai dengan kenyataan, aku tetap percaya bahwa masih ada Tuhan yang sangat mengerti aku. Aku yakin, Tuhan pasti akan menyediakan kejutan kejutan indah dalam hidupku sesuai dengan rencanaNYA. Tak mengapa, kalaupun hari ini sesuatu yang “manis”, yang kutunggu tak kunjung tiba, aku tetap bersyukur asalkan Tuhan tetap bersamaku.

Jakarta 19 September 2009 : 24.03 WIB : saat aku sedang menunggu sesuatu yang “Manis” dalam hidupku dan saat aku menuliskan kisah setengah nyata ini)

AYAH TELAH MENINGGAL

Ayah telah meninggal. Tanpa ucap perpisahan, tanpa firasat apapun juga. Dia sama sekali tidak sakit. Semua begitu tiba tiba ketika aku harus mengantarkan ayah pada kesudahan yang abadi. Ayah pergi begitu saja meninggalkan semua yang fana didunia ini. Duniaku tiba tiba terasa gelap tanpa ayah. Aku seperti orang buta yang berjalan bertatih tatih meneruskan hidup ini. Setelah ayah meninggal, aku bingung dan berjalan dengan arah yang tak menentu, seolah jalan yang aku lalui tak pernah berujung. Aku tidak pernah tahu lagi, apakah malam akan berganti siang dan sebaliknya. Bagiku semua sama, hari akan berubah menjadi apa, tak akan berpengaruh lagi dengan hidupku. Yang ada hanya aku yang tertunduk meratapi kesunyian semenjak ayah sudah tak ada disisiku lagi. Aku sama sekali belum siap menerima kepergian ayah, baik jiwa maupun ragaku. Ayah telah meninggal. Hanya aku yang kehilangannya. Diatas tanah merah itu hanya aku yang menahan lara. Siang yang terik itu, semua yang memiliki pertalian kerabat dengan ayah, mengantarkannya untuk yang terakhir kali saat ayah harus disatukan dengan bumi. Hanya aku yang terisak. Hanya aku yang terluka. Berkali kali aku menghembuskan nafas panjang, ada sesuatu yang mengganjal didada, sesak dan menghimpit jiwa. Sepertinya semua yang mengantar ayah tak memiliki expresi kesedihan, seolah mereka mengantar seseorang yang akan bepergian jauh saja. Mungkin aku memang terlalu berlebihan menahan kesedihan ini sendiri. Kecuali tante Mar, yang sebenarnya hanyalah adik angkat ayah, tak seorangpun kulihat memiliki raut sedih pada mukanya, bahkan ada beberapa orang yang sekilas aku lihat seperti berkelakar satu sama lainnya ditanah pekuburan itu. Aku berdiri mematung diatas liang lahat yang dibuat untuk mengubur ayah. Rasanya tak percaya ayah akan pergi secepat itu. Kulihat ibu dan kedua kakak lelakiku yang berdiri berdampingan denganku juga tidak nampak sedih pada raut mukanya. Apakah ayah memang tidak berarti apa apa bagi mereka? Ataukah mereka punya alasan tersendiri untuk tidak kelihatan sedih didepan banyak orang? Karena sebagai orang yang beriman mereka memang dituntut memiliki expresi ikhlas ketika orang yang paling dekat dengan mereka harus menghadap yang Kuasa. Ada yang bilang, kita tidak boleh menangis saat mengantar kepergian orang yang kita cintai menghadap yang kuasa, karena akan membuat jalan mereka terhambat menuju kekekalan yang abadi. Tapi ketidak relaan hatiku membuatku terus berurai air mata mengantar kepergian ayah. Mungkin bagi ibu dan kedua kakakku, ayah memang tidak berarti apa apa, karena sepanjang ingatanku mereka selalu saja berbeda arah dalam segala hal dengan ayah. Hubungan mereka memang kurang harmonis. Hanya kepadakulah ayah bisa berbagi sayangnya. Jadi mungkin kepergian ayah adalah lebih baik, setidaknya bagi ibu dan kedua kakakku.
Beberapa hari sebelum ayah menghadap Illahi, dia masih sempat berbicara denganku. Seperti biasa, ketika ayah menghubungi aku, dia selalu menyelipkan sebuah pertanyaan “ Apakah hidupku baik baik saja?” kemudian dia akan menambahkan dengan kata kata “ Jangan pernah kuatir dengan keadaan ayah Nin! Disini ayah selalu berdoa buat kamu”. Meskipun kata kata itu berulang kali diucapkan oleh ayah setiap kali aku menelponnya, namun bagiku kata kata ayah bagaikan air yang mengalir sejuk membasahi kegersangan hatiku. Setelah menelpon ayah, aku selalu merasa tenang. Ayah adalah ketegaranku. Kami memang hidup terpisah. Setelah lulus masa SMAku, aku terpaksa meninggalkan ayah untuk kuliah di Jakarta. Aku masih ingat wajah nelangsa ayah saat melepaskanku pergi untuk menimba ilmu yang lebih tinggi di Jakarta ini. Waktu itu ayah bilang “ Setiap orang memiliki jalan cerita sendiri Nin, jadi ayah berharap cerita hidupmu akan lebih baik dari ayah.” “Pergilah, jangan kuatir tentang ayah, ayah akan baik baik saja “ katanya lagi waktu itu sambil memeluk tubuhku erat. Akupun meninggalkannya dengan raung tangis yang membuat dadaku jadi sesak. Dan sejak itu aku selalu rajin menelpon ayah untuk sekedar menanyakan keadaannya atau sebaliknya ayahlah yang akan menelponku.
Ayah telah meninggal. Ada banyak kenangan yang tak pernah aku lepas dalam hidupku, kenangan tentang masa kecil yang indah, kenangan tentang hari hari bersama ayah. . Aku masih ingat ketika ayah mengajari aku mengendarai sepeda motor. Usiaku baru 11 tahun saat itu. Ayah begitu sabar serta penuh dengan kasih sayang mengajariku. Aku begitu bangga sekali, seolah hanya aku yang memiliki ayah sebaik itu. Aku masih bisa merasakan pelukakannya saat menggendongku, rasanya nyaman sekali. Ayah selalu menggendongku dibelakang punggungnya, sehingga aku harus memeluk lehernya supaya tidak terjatuh. Sampai sekarang aku masih bisa merasakan punggungnya, saat mengingat kenangan itu. Ayah memang bukan siapa siapa bagi semua orang. Tapi bagiku dia adalah pahlawan. Pahlawan yang telah menyelamatkan gadis kecilnya dari bencana banjir yang menghalau kampung kami semasa aku masih berusia 6 tahunan. Saat itu aku pernah tenggelam tersapu oleh banjir yang tiba tiba datang. Meski samar sekali aku bisa mengingat kejadian itu. Tapi aku tetap menganggap ayahlah pahlawanku saat itu dan sampai kapanpun juga.
Ayah telah meninggal. Ayah adalah Laki-laki dengan ketekunan yang mengagumkan. Dia bekerja keras untuk menghidupi kami sekeluarga. Belum pernah kulihat ayah mengeluh sedikitpun saat merasa lelah.. Senyumnya selalu menampakkan dia seorang pekerja keras. Setiap pagi ayah selalu menyempatkan diri untuk sekedar bersarapan denganku. Kulihat matanya tak henti hentinya menatapku saat kami sedang sarapan berdua. Dari ekor matanya , aku tahu ayah selalu bangga memilikiku. Ritual itu hampir setiap pagi mewarnai hari hariku bersama ayah. Yah….hanya aku dan ayah, karena ibu dan kedua kakak lelakiku jarang sekali menyemarakan ritual sarapan pagi itu. Namun meski begitu, ayah selalu nampak riang dan bersemangat menemaniku menuntaskan sarapan pagiku. Keluarga kami memang bukan keluarga yang harmonis, seperti layaknya keluarga keluarga normal pada umumnya. Perjodohan masa lalu yang dijalani oleh kedua orang tuaku sedikit banyak telah berpengaruh terhadap roda perjalanan kehidupan keluarga kami. Ibuku pada akhirnya menjadi orang yang tidak peduli dengan keluarga, seolah hanya ayah yang berkeinginan membina sebuah keluarga. Berulang kali ibuku menghimbau ayah untuk menceraikannya. Namun dengan alasan kami anak anaknya, ayah berusaha keras mempertahankan keutuhan keluarga kami meskipun sebenarnya kehidupan kami terasa pincang. Ayah selalu saja menuruti semua kehendak ibu. Ibu bagaikan ratu yang bertahta dalam kerajaan keluarga yang dibinanya. Setiap hari yang ibu lakukan hanya bersenang senang, tanpa pernah menghiraukan keluarganya. Meski begitu, ayah tidak pernah sekalipun mencela ibu. Bagi ayah, ibu tetap wanita terbaik dalam hidupnya. Aku benar benar kecewa dengan sikap ibu. Bahkan aku seringkali bertengkar dengan ibu atas sikapnya yang sama sekali tidak bisa menghargai ayah. Namun ayah selalu saja membela ibu. “Sudahlah Nin, ayah bisa kok cari makanan diwarung depan”. Katanya suatu kali ketika aku marah karena ibu tidak menyediakan makan malam buat ayah. Meskipun sebenarnya hal itu seringkali terjadi, waktu itu aku benar benar sudah tidak bisa mentolerir sikap ibu. Sampai aku dewasapun, sikap ibu masih menjadi misteri buat aku. Aku hampir tak mengenal watak asli ibuku. Selama ini tante Mar, adik angkat ayahlah yang selalu memperhatikan aku dan kedua kakakku. Sebenarnya ibu adalah seorang dengan wajah dan sosok yang menyenangkan. Tapi perangai ibu bukanlah gambaran ibu baik yang selama ini selalu diagung agungkan oleh manusia dibumi ini. Karena kecintaan ayah yang mendalam terhadap ibuku, maka aku tidak memiliki keberanian untuk bertanya dengan detail kenapa ibu bersikap seperti itu terhadap ayah. Aku hanya ingin menjaga perasaan ayah. Bagaimanapun ayah selalu memuji muji ibu, padahal tak sedikitpun peranggai ibu yang patut menerima sanjungan. “Ibumu seorang yang baik. Hanya mungkin ayah memang bukan suami yang bisa membahagiakannya. Kasihan ibumu, ayah yang banyak salah terhadap ibumu “ kata ayah suatu ketika. Aku tak habis pikir mengapa ayah belum pernah mengatakan sesuatu yang buruk tentang ibu. Padahal sering juga kudengar dari tante Mar, tentang kekecewaan sikap keluarga ayah terhadap ibu. “Kau tak usah dengar mereka Nin, mereka hanya tak pernah tahu betapa baiknya ibumu“ begitu ayah mengingatkanku, ketika aku mencari jawab tentang peranggai ibu. Dengan tante Mar , begitu aku memanggil perempuan yang menjadi adik angkat ayahku itu. Perempuan itulah yang menjadi pengganti ibuku hingga aku dewasa. Tak ada hubungan darah sedikitpun. Hanya kedekatan tante Mar dengan ayahlah yang menyatukan kami. Tapi perempuan yang hidup sendiri tanpa suami itu telah memberi gambaran ibu yang sempurna bagiku. Dengan kasih sayang yang kuanggap berlebihan itulah dia membesarkanku dan juga kedua kakakku. Dan ibu, entah apa perannya dalam keluarga kami.
Ayah telah meninggal. Belum genap setahun ayah pergi, tapi dia benar benar telah dilupakan oleh dunia ini. Entahlah, mungkin isi kepalaku berbeda dengan isi kepala orang lain. Aku selalu hidup didalam bayang bayang ayah. Kemana kakiku melangkah yang ada hanya ayah dan ayah. Hari itu setelah 5 bulan berlalu dari kepergian ayah, aku sengaja pulang kembali kekampung halamanku. Aku ingin melihat makam ayah. Sore itu aku datang seorang diri melihatnya. Aku mencabuti rumput rumput liar yang tumbuh memenuhi makam ayah. Dilihat dari rimbunnya rumput rumput liar diatas pusara ayah, aku tahu selain aku tidak pernah ada lagi orang yang pernah datang ketempat dimana ayah dimakamkan. Tidak ibuku, juga kedua kakakku. Sekali waktu aku pernah bertanya “Kenapa ibu tidak pernah ke makam ayah?” “Ibu tidak sempat kesana, apalagi jarak rumah sangat jauh dengan makam ayahmu!” Begitulah jawaban ibu. Aku hanya bisa memendam kesedihan mendengarnya. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang ibu rasakan sejak kepergian ayah. Seperti sore itupun, ibu menolak ajakanku untuk mengunjungi makam ayah. Ibu sepertinya tidak begitu merasa kehilangan dengan kepergian ayah. Aku kembali terisak diatas gundukan tanah yang telah mengeras itu. Yah…. Sudah 5 bulan berlalu sejak ayah telah bersatu dengan bumi. Dan aku masih saja terus berurai air mata saat mengingat kenangan tentang ayah.

Aku mencintaimu ayah………..
Aku akan terus merindukanmu
Bumi serasa sunyi tanpamu
Diri inipun hampa kehilanganmu
Ayah ……tanpamu aku merasa lelah
Menapak jalan yang kian terasa panjang
Setiap saat detak nafasku meronta rindu
Kemana rindu ini harus beralamat Ayah?
Mungkin waktu memang belum akrab denganku Ayah
Hingga kuingin menggugat kepergianmu
Ijinkan aku mengatakannya padamu Ayah
“ Aku sangat berterima kasih”
Kau sudah membuatku mewarnai dunia ini

Ayah telah meninggal. Aku duduk terdiam ditempat ayah biasa menghabiskan sorenya untuk sekedar menulis ataupun membaca buku. Aku ingin menyusuri kenangan tentang ayah. Semuanya belum ada yang berubah, meja belajar ayah, buku buku ayah, serta barang barang milik ayah yang masih tertata rapi pada tempatnya. Ibukupun sepertinya enggan untuk sekedar memindahkan barang barang milik ayah yang mungkin memang tak pernah meninggalkan kenangan buatnya itu. Perlahan aku buka lemari buku ayah dengan dada penuh debar. Satu persatu aku mulai membuka buku buku yang berderet rapi itu, sembari merangkai potongan kenangan tentang ayah. Tiba tiba ada sesuatu yang jatuh dari helai buku yang baru aku buka, sepertinya sebuah surat. Jantungku terasa berdebar mengambil surat yang jatuh kelantai tersebut. Rasa penasaran yang menyeruak hati memaksaku untuk membacanya.

Buat : Miranti yang aku sayangi,
Terimakasih kau telah mau berbagi hidup denganku. Meskipun aku tahu, semua yang kau lakukan hanyalah sebuah keterpaksaan. Beberapa tahun ini, setelah hidup denganku, mungkin adalah hari hari yang paling menyedihkan buatmu. Sejak mengenalku, aku tahu duniamu terasa mati. Kau harus hidup dengan orang yang sama sekali tak kau cintai. Aku tak bermaksud membelimu dengan uangku. Semua kulakukan karena aku terlalu mencintaimu. Aku mencintaimu, seperti aku mencintai dunia ini. Untuk itulah aku memaksa ayahmu untuk menyerahkan hidupmu mendampingiku. Dan membuatmu terpaksa melaksanakan mandat dari ayahmu. Karena aku berharap dengan ketulusan cintaku, suatu hari nanti kau akan menerimaku Miranti. Hingga aku bisa memasuki duniamu yang sendiri. Tapi ternyata hari yang aku tunggu tunggu itu tak pernah kunjung datang. Bahkan sampai anak anak kita terlahir, itupun tak mampu menggoyahkan cintamu. Aku tahu pria dimasa lalumu itu adalah yang terpenting dalam hidupmu, sampai mampu menggoyahkan masa depan yang ingin kuraih bersama anak anak kita. Tak tersentuhkah hatimu melihat anak anak kita yang mulai beranjak dewasa Miranti? Mereka adalah permata permata kita. Dulu aku pernah menyesal telah memaksamu untuk menikah denganku. Tapi melihat anak anak tumbuh besar, akhirnya penyesalan itu berbuah manis. Kau tahu Miranti, aku sangat bahagia memiliki mereka.
Setelah membaca surat ini, aku berharap kau tak akan sedih lagi Miranti, karena mungkin aku telah pergi. Maafkan aku yang telah egois membelenggu hari harimu, sampai kau tak mampu lagi membela diri untuk beranjak pergi. Tapi tolong maafkan aku demi anak anak. Berikan mereka coretan hidup yang lebih indah dari kehidupan kita. Jangan kau hukum mereka karena kesalahanku. Kasihanilah mereka Miranti, mereka sama sekali tak bersalah. Sudah cukup aku yang terhukum karena mencintaimu. Kau harus hidup bahagia Miranti. Raihlah kebahagiaanmu bersama anak anak kita. Aku akan terus merasa bersalah, kalau kau tak hidup bahagia. Kau berhak bahagia Miranti. Aku akan terus memohon kepada yang Kuasa, agar kau diberi kesempatan untuk bahagia. Sekali lagi terimakasih, kesepian hatiku telah kau tukar dengan menghadirkan anak anak yang termanis dalam hidupku. Aku berharap kau akan menjadi ibu yang sesungguhnya bagi mereka, Permana, Praditya dan Nindya.
Dariku,
Yang selamanya mencintaimu
Tanpa terasa mataku basah penuh dengan air mata, semua tabir kehidupan yang aku lewati selama ini terbuka sudah setelah ayah meninggal. Aku telah menemukan jawaban tentang sikap ibu dan semua yang ibu lakukan untuk menghukum ayah. Entah aku harus menyalahkan siapa? Keduanya ayah dan ibuku adalah korban dari keteguhan cinta yang mereka miliki. Masing masing memiliki cara untuk mempertahankan cintanya. Hidup memang penuh dengan misteri, siapa yang pernah menyangka kalau kehidupan yang kumiliki adalah hasil dari sebuah pernikahan yang rumit. Yah, mencintai dan ingin memiliki adalah dua hal yang berbeda. Tiba tiba aku ingin sekali memeluk ibu. Wanita malang yang telah memberikan hidupnya kepada ayah yang paling kucintai. Wanita yang mungkin saja tidak pernah merasa bahagia dalam hidupnya.Wanita yang selama ini selalu aku benci.
Ayah telah meninggal. Ayah adalah segalanya bagiku, selama bahagia itu mewarnai hidupku, dialah yang selalu menerakan jejaknya dalam setiap lembar ceritaku. Dan aku sangat menyesal dengan apa yang telah terjadi, aku menyesal belum sempat melakukan apapun juga buat ayah. Kalau saja aku bisa bercakap-cakap sekali saja, yach ………sekali saja. Karena begitu banyak cerita serta ungkapan terima kasih yang ingin aku ucapkan buat semua yang telah ayah lakukan dalam hidupku. Aku tidak peduli “ Apakah ayah pernah melakukan sesuatu yang buruk dimasa lalu ataukah ayah bukan orang yang baik”. Tapi ayah akan selalu mendapatkan tempat terindah dalam hati, hidup,dan jiwa ku selama lamanya. Sampai aku harus kembali juga kepada yang Kuasa nantinya. Ayah adalah alasanku kenapa aku harus menangis, ayah adalah alasanku kenapa aku harus marah, kenapa aku harus tersenyum, kenapa aku harus sedih, kenapa aku harus bahagia., dan ayah adalah semua alasan untuk apa aku harus hidup.
Ayah telah meninggal. Dan aku telah mampu menerima kenyataan dengan hati yang besar. Aku percaya ayah akan merasa tenang tanpa tangis yang kuberikan. Aku hanya mampu berharap bahwa ayah sudah cukup merasakan kebahagiaan hidup didunia ini. Dalam hati aku berjanji “ Ayah, akan kubuat wanita yang paling kau cintai itu menjadi bahagia, aku akan terus mengobarkan cintamu kepada ibu, meski lewat cara yang berbeda. Tenanglah ditempat abadimu Ayah, kita pasti akan bertemu lagi. Semoga ditempat yang abadi nantinya, Ayah bisa menemukan cinta ibu kembali “


Jakarta, Februari 2008

JANGAN SALAHKAN CINTA!

Ada yang bilang “Cinta itu tidak pernah salah”. Pernyataan ini memang bukan sebuah undang undang yang harus dipatuhi. Namun mau tidak mau harus di jalani. Karena tak ada seorangpun yang mampu menolak cinta. Kapanpun perasaan itu datang, aku yakin kau tak kan pernah bisa berpaling darinya. Jadi benar, cinta memang tak pernah salah. Ia akan datang, tak terduga, tak tertebak. Cinta tak pernah memilih. Kepada siapa saja cinta bisa datang meletakkan sayapnya. Semua begitu tiba tiba dan semua ini adalah tentang cinta.

Saat ini cinta sedang datang kepada giliranku. Aku tak mampu menolaknya, meski ini adalah sebuah cinta terlarang. Cinta yang tak seharusnya singgah dihatiku. Sebuah cinta dari seorang laki laki beristri. Apa kau pernah mengalami cinta seperti ini Kawan? Kalau tidak, kau adalah orang yang beruntung. Cinta seperti ini tak pernah nyaman rasanya. Antara debar bahagia, rasa sakit dan takut berbaur jadi satu didalamnya, sangat meresahkan. Dan tak sedikitpun aku beranjak untuk meninggalkannya. Hari hari selanjutnya kulalui penuh debar. Sebenarnya aku masih peduli dengan semua tatapan dan larangan serta norma norma masyarakat yang ada, bahwa “ Dilarang keras mencintai laki laki beristri”. Namun tekadku untuk mencintai laki laki itu semakin kuat, sekuat rasa sakit karena memusuhi ayah dan ibuku yang menolak mentah mentah hubunganku. Aku dihadapkan pada pilihan sulit yang semakin kejam menjeratku. Dan pelan pelan cinta terlarang itu menang. Sebuah kemenangan yang menyedihkan.

Laki laki itu adalah teman sekantorku. Hubungan kami menjadi akrab sejak laki laki bernama Aldo itu sering mengajakku makan siang. Sebuah kebiasaan yang berakibat bencana, meski dibumbui oleh sebuah cinta. Bencana, karena itu sama saja membawaku masuk kedalam jurang yang tak berdasar. Aku ingin keluar dari dasar jurang itu, tapi aku tak berdaya. Saat aku sedang tidak bertemu dengannya, ada perasaan rindu bercampur marah. Marah? Itu sudah pasti dan sangat wajar. Bagaimana tidak, ia menjalin kasih denganku sedangkan ia sendiri sudah memiliki keluarga, istri dan anak. Ada perasaan bersalah di hatiku, tak tega aku membayangkan raut wajah isterinya yang sedang memikirkan suaminya menjalin cinta dengan perempuan lain. Tapi aku tetap tak berdaya, meski kukerahkan hatiku untuk menolak dan keluar dari kemelut ini.
“ Aku akan mencari jalan keluar untuk cinta kita Fai!” katanya suatu kali ketika kita sedang menikmati makan siang disebuah café yang berdekatan dengan kantorku.

“Jalan keluar seperti apa Al? Sudah hampir setahun kita jalani cinta yang rumit ini, namun tak sedikitpun titik terang kita dapatkan.” Kataku sambil mengaduk aduk es moca cappucino yang selalu aku pesan dikala hatiku sedang dilanda resah.
“Pasti ada! Apa kau tak percaya dengan kekuatan cinta?” Aldo meyakinkanku.
“Cinta terlarang tak pernah memiliki kekuatan apapun Al. Tak ada satupun manusia dibumi ini yang sepakat dan setuju dengan hubungan terlarang seperti ini”. Aku berusaha mematahkan pendapatnya tentang cinta yang kita miliki. Aldo hanya diam menanggapi kalimatku, entah apa yang tiba tiba dipikirkan oleh laki laki itu.
“Baiklah, kita bicarakan nanti saja! Kita sudah harus kembali kekantor”. Begitulah ia mengakhiri perdebatan yang tak pernah berujung ini. Sejak pertama kali kami menjalin hubungan, sebenarnya aku sudah tahu kemana arah hubungan kami. Sebenarnya aku ingin bersikap realistis, namun setiap kali berhadapan dengan Aldo, hatiku sungguh tak tahan untuk tetap mencintainya. Akupun sangat tahu, Aldo bukanlah laki laki yang baik, ia tak lebih dari laki laki plin plan yang suka mendua. Tapi terlanjur, ia sudah merampas seluruh hatiku hingga sesak dadaku menerima cintanya.

Sore itu aku mengajak Aldo bertemu. Disebuah café yang tersembunyi dipojok kota Jakarta yang menjadi favorit kita. Aku telah memutuskan, untuk menghakhiri cinta terlarang ini. Berhari hari ini aku mencari jalan keluar untuk cintaku. Namun semua jalan tertutup sudah. Aku bertemu banyak orang untuk mendukung hubunganku dengan Aldo, dan tak satupun dari mereka mampu memahami perasaanku. Hanya cacian serta rasa kasianlah yang kutemukan.
“ Fai kau tak kasihan dengan istri Aldo? Bagaimana kalau kau yang berada pada posisi istrinya sekarang?”.
“Fai, lupakan Aldo, ia hanya laki laki yang suka mendua, nanti ia juga akan meninggalkanmu, setelah menemukan perempuan yang jauh lebih baik dari kamu.”
“Fai , Aldo bukan laki laki yang setia, ia tak pantas memilikimu”
. “Fai, apa kau perempuan yang tak punya hati nurani? Aldo sudah memiliki anak, dan anaknya masih membutuhkan bapak Fai. Sadarlah Fai!.
Kalimat kalimat seperti itulah yang mampir ketelingaku. Hingga inilah keputusanku untuk Aldo, laki laki yang setahun terakhir ini telah merampas hatiku. “Putus!” Aku harus memutuskan hubunganku dengan Aldo. Inilah tekadku terbesar untuk pertemuan ini.
“Kau mau minum apa Sayang!” Aldo kelihatan begitu menikmati pertemuan ini, ia sama sekali belum tahu tujuanku kali ini. Aku memandangnya dengan perasaan berdebar. Ingin rasanya mulutku melontarkan semua yang ada diotakku. Dan kau tahu apa yang kulakukan Kawan? Didepan Aldo, mulutku tiba tiba terasa kelu. Aku benar benar tak bisa mengingkari hatiku bahwa aku sangat mencintai laki laki yang ada dihadapanku ini. Meski aku tahu, aku tak akan pernah mendapatkan status apapun dari hubungan kami. Ia laki laki beristri. Tak mungkin ia menceraikan istrinya.
“Apa aja!” Aku menjawab tawarannya tanpa gairah sedikitpun. Aku sibuk mengurus perasaanku. “Sayang …. Kamu kenapa sih?” Aku menggelengkan kepala menatap matanya dengan keresahanku. Apa yang harus aku lakukan Kawan? Berilah aku saran! Aku benar-benar pusing. Apabila masalahku ini berlarut-larut dan aku tidak segera menemukan pemecahannya, aku khawatir ini akan berdampak buruk terhadap keluargaku dan lambat laun istrinya pasti akan tahu juga. Semakin sering aku bersamanya, semakin pekatlah perasaan cintaku. Kadang aku berharap, waktu berjalan begitu lambat, agar aku masih bisa berlama-lama mengisi hidupnya. Sesekali muncul juga perasaan benciku terhadap Aldo, mengingat penghianatan yang ia lakukan terhadap istrinya. Namun rasa benci itu selalu hilang seketika aku melihat wajahnya serta perhatiannya kepadaku. Sore itu kuurungkan niatku untuk meminta putus darinya. Dan kubiarkan hatiku semakin dalam masuk dalam jerat hatinya yang didalamnya telah diisi oleh perempuan lain.

“Apalah arti cinta, bila aku tak bisa memilikimu Al? Mungkin cinta kita memang tak akan pernah berujung”. Kataku disuatu siang yang lain sepulangnya kami dari kunjungan customer. Siang itu kami sengaja menghabiskan waktu untuk mampir di sebuah café. Aldo hanya diam menatapku. “Aku tak mungkin memaksamu , untuk menceraikan istrimu bukan?” Sekali lagi ia diam. Tatapannya mengisyaratkan berjuta-juta permintaan maaf kepadaku. Lalu? Apa yang bisa ku buat? Aku hanya bisa membalas tatapanya dengan genangan air mata yang mengartikan, ” Aku belum sanggup kehilanganmu, andai saja bisa kupaksa Tuhan untuk mempersatukan kita “. Ia menggenggam tanganku erat. “Aku membutuhkanmu Sayang, jangan pernah tinggalkan aku!”. Kau lihat kalimatnya Kawan! Harusnya aku sadar, alangkah egoisnya kata kata yang keluar dari mulutnya itu. Aku benar benar telah membutakan mata hatiku. Ia laki laki beristri tapi ia mengatakan membutuhkan perempuan lain. Bukankah cinta yang ia miliki hanyalah dusta semata? Lalu kenapa cinta yang penuh dusta ini tak bisa ku akhiri? Entahlah! Mungkin dalam keadaan jatuh cinta, seseorang bisa menganggap senyum penghianatan sebagai bentuk dari sebuah perhatian. Seseorang sering melihat realitas lain dari sepotong coklat bisa menjadi sangat istimewa. Seseorang yang tengah jatuh cinta sebenarnya sedang mendustai dirinya sendiri dan mengubah realitas yang ada. Seorang suami bisa saja tiba tiba mengaku bujangan. Atau bisa saja seorang suami terbungkuk bungkuk tak berdaya dibawah kerling istrinya. Semua itu karena mereka jatuh cinta. Mereka semua rela menanggung keadaan semacam itu karena memang cinta tak pernah mengenal logika. Bukan cinta yang salah, tapi pikiran kitalah yang tak pernah mau menerima realitas yang ada. Sudahlah Kawan, aku tak ingin membahas cintaku lagi. Biarkan aku berpikir sesaat lagi. Bila memang pada akhirnya cintaku tak akan menyatu, aku berharap hatiku tak begitu terluka ketika merelakan Aldo pergi. Sesulit inikah jalan takdirku, yang tak inginkanku bahagia? Aku sadar, cintaku kali ini benar benar sulit untuk dilupakan. Saat ini membuat orang lain kecewa rasanya lebih mudah untuk kulakukan. Siapa yang harus kusalahkan? Aku atau cintaku? Rasanya tak mungkin aku mengkambing hitamkan cinta, karena memang cinta tak pernah ada salahnya. Bantulah aku Kawan! Aku tak ingin tersesat lebih jauh dalam rimba laki laki beristri itu.

Jakarta, 29 April 2010

Senin, 01 November 2010

KENAPA HARUS PELACUR?

“ Aku hanya ingin hidup bahagia “ itulah kalimat yang selalu ingin aku sampaikan kepada semua orang. Bukankah aku juga berhak mendapatkan hidup seperti itu? Aku memang hanya seorang pelacur, kenyataan itu tak dapat aku pungkiri. Seseorang yang sama sekali tidak memiliki apapun untuk dibanggakan dalam hidup ini, kecuali aku hanya bisa memberikan kebahagiaan sesaat kepada setiap lelaki yang tidak pernah merasa puas dengan apa yang telah dimilikinya. Seorang pelacur yang tak pernah mendapatkan tempat terbaik dibelantara bumi ini. Kadang aku bertanya dalam hati “ Aku selalu memberikan surga kenikmatan kepada semua laki-laki dibumi ini, tetapi apakah sebaliknya ada surga untuk pelacur sepertiku? Entahlah….aku seperti rumput liar yang tumbuh di sela-sela batu yang selalu diinjak orang. Aku pernah berusaha berontak terhadap takdir ini, namun aku tak kuasa untuk menghindar. Keadaan mengharuskan aku bekerja seperti ini. Selain terpaksa melacurkan diri, aku tidak tahu lagi harus bekerja sebagai apa. Karena kecuali menjadi pelacur, tak banyak yang aku tahu dalam hidup ini.
Saat usiaku masih 14 tahun, belum usai sekolahku di SMP, ayahku telah menyerahkan aku kepada Bos Karman pemilik perkebunan tebu didesaku. Dia menjanjikan hidup yang layak untukku dan keluargaku. Tentu saja ayahku segera meluluskan tawaran Bos Karman meski aku harus menjadi selirnya yang kelima. Aku tidak pernah bisa menolak mandat dari ayahku itu. Karena bagi orang desa seperti kami, kebutuhan perut adalah diatas segalanya. Maka jadilah aku selir termuda mandor Karman. Dan pada akhirnya aku dijual untuk menjadi pelacur ke Jakarta, setelah Bos Karman memiliki selir selir lain yang lebih cantik, lebih muda dan lebih menarik dari aku. Sejak saat itulah aku merasa hidupku telah ditakdirkan untuk menjadi seorang pelacur. Di kota yang selalu sibuk dengan urusan duniawinya ini aku terlatih menjadi seorang pelacur yang professional dan cukup terkenal dikalangan para lelaki hidung belang. Bahkan tante Monik, induk semangku itu membekali aku dengan berbagai macam pendidikan yang katanya akan membuatku lebih bisa menekuni kepelacuranku dengan professional dan aku bisa berkomunikasi dengan baik terhadap siapapun dari kalangan manapun yang datang ketempat pelacuran ini. Mungkin tempat pelacuran kami memang berbeda dengan tempat pelacuran yang lainnya. Kami diajarkan tidak hanya mengajak para tamu untuk langsung ke tempat tidur, tetapi lebih kepada ngobrol ngobrol terlebih dahulu serta berbagi hidup kepada setiap lelaki hidung belang yang datang. Dengan begitu mereka semua , laki laki yang datang itu akan datang kembali ketempat kami, meski hanya untuk sekedar berkunjung.
Bagiku menjadi pelacur adalah kewajiban, dimana laki laki dan malam aku abadikan lewat sisa usia yang aku miliki. Entah sudah berapa banyak laki laki yang pernah tidur denganku, aku tidak pernah menghitungnya. Akupun tak pernah mengingatnya. Saat seperti itu aku hanya merasa berarti dan dibutuhkan. Meski hanya sesaat perasaan itu ada. Tak mengapa . Aku merasa disitulah harga diriku diletakkan. Aku tak pernah memiliki kuasa atas diriku sendiri, hanya nafsulah yang begitu setia menemani hari hariku. Cinta ? Akupun tak pernah merasakannya. Karena bagiku cinta hanya diciptakan bagi orang orang suci, yang selalu menjunjung tinggi harga diri. Mungkin perlu seumur hidupku untuk menemukan cinta itu. Karena memang tidak ada tempat yang indah dan suci bagi pelacur sepertiku. Kadang aku berpikir tentang bertaubat dari semua dosa dosa ini, namun aku benar benar tak pernah bisa untuk menjangkaunya. Aku hanya bisa pasrah bersahabat dengan air mata saat memikirkan hidupku bersama laki laki dan malam. Aku merasa diriku memang tak diciptakan untuk kehidupan yang biasa.
Setiap malam aku mendandani diriku secantik mungkin untuk menarik perhatian para laki laki hidung belang yang datang. Ah…. Tidak semuanya bisa disebut hidung belang. Mereka datang dengan berbagai macam alasan yang sengaja dibuat untuk membenarkan dan memaklumkan kedatangan mereka ditempat pelacuran ini. Aku tidak pernah ambil pusing dengan siapapun yang datang, yang penting mereka membawa uang. Setiap hari aku berada di dalam kepulan-kepulan asap rokok tebal dari mulut para lelaki berduit yang kutemani duduk-duduk, minum, sampai akhirnya ke kamar tidur. Aku tidak pernah mengerti, apa hebatnya tempat pelacuran seperti ini, yang jelas mereka selalu datang dan datang lagi. Akupun tak pernah berpikir tentang dosa ataupun rasa terluka dari para istri yang suaminya begitu suka datang kekompleks hiburan malam ini. Para lelaki itu sepertinya telah mabuk kepayang dengan pesona para primadona kompleks pelacuran ini. Mereka itu adalah para lelaki kesepian yang butuh pelukkan Para lelaki kedinginan yang butuh kehangatan. Para lelaki yang merasa tidak dihargai lagi oleh pasangannya dan para lelaki yang tidak tahu lagi ke mana harus menghamburkan uang mereka yang berlebihan. Aku sadar, dengan takdirku, aku telah menabur dosa kepada semua laki laki yang pernah tidur bersamaku. Namun hati nuraniku telah terlatih untuk kebal terhadap sebuah perasaan dosa. Begitulah aku menjalani hari hariku sebagai seorang pelacur.
Kemarin aku sempat mereguk sebuah kebahagiaan. Seorang lelaki berusia tiga puluhan yang hampir beberapa bulan menjadi langgananku, mengaku telah jatuh cinta kepadaku. Selama ini aku tidak pernah berani untuk jatuh cinta kepada lelaki manapun. Aku merasa tidak pernah punya tempat dihati laki laki. Tetapi lelaki itu telah mampu membuat hatiku bergetar saat bersamanya menghabiskan malam malam yang indah. Dalam sekejap dia telah mampu memberi warna yang lain dalam hidupku. Inilah pertama kalinya aku jatuh cinta. Jatuh cinta. terhadap laki laki beristri. Mungkin hanya cinta terlarang seperti inilah yang bisa kumiliki. Cinta dari dua orang yang sama sama merasa kesepian. Sejak lelaki itu mengaku mencintaiku, diapun menyewa semua malam yang aku miliki, dan jadilah dia satu satunya lelaki yang meniduriku belakangan ini. Karena Bastian, laki laki yang mengaku jatuh cinta padaku itu, aku tak mau menerima tamu yang lain. Aku menjadi wanita simpanan yang mampu mengisi kekosongan hatinya. Sesuatu yang katanya tak pernah dia dapatkan dari pernikahannya. Mungkin aku memang tak tahu diri dan bodoh kalau terlalu mengharapkan lebih dari Bastian. Tapi begitulah manusia, selalu merasa tidak pernah puas dengan apa yang telah didapatkannya. Harusnya aku tak perlu lagi menuntut lebih terhadap Bastian, karena hampir semua malam telah dia berikan kepadaku. Untuk itulah aku memaksa Bastian untuk meningkatkan statusku dari seorang pelacur menjadi seorang istri, meskipun hanya untuk menjadi istri kedua. Tak mengapa, bukankah dulu akupun pernah menjadi seorang selir?
Mencicipi kebahagiaan sesaat itu telah membuatku lupa bahwa sebenarnya Bastian itu hanyalah laki laki kebayakkan yang memang suka mendua. Aku telah menenggelamkan diriku dalam cinta semu milik Bastian. Cinta semu untuk seorang pelacur sepertiku. Karena Bastian akupun sempat bermimpi hidup dengan normal. Namun semua itu hanyalah anganku saja, karena ternyata istri bastian akhirnya mencium hubungan kami. Istrinya datang ketempat pelacuran mencariku. Dia begitu anggun dan berwibawa. Berhadapan dengan perempuan yang begitu berkilau dengan wajah yang menarik, benar-benar membuatku merasa rendah dan tidak ada artinya. Dia mencaci maki dan menghardik aku “ Aku tahu hubunganmu dengan suamiku, seharusnya pelacur sepertimu tahu diri dan tidak mengganggu suami orang!” “Aku tahu hanya uangkan yang kamu butuhkan? Sebut berapa yang kamu mau?” Katanya lagi dengan nada yang sangat sinis. Wajahku terasa panas, air mataku hampir tumpah, tapi aku berusaha menahannya. Bagi orang orang suci seperti istri Bastian, pelacur yang telah mengganggu suaminya memang pantas dicaci maki. Tetapi kenapa harus pelacur yang disalahkan? Kenapa bukan laki laki beristri itu atau laki laki yang kerap meniduriku yang harus disalahkan? Mereka memiliki komitment dalam pernikahan, tetapi kenapa masih saja datang ketempat tempat pelacuran? Mungkin begitulah hukum alam, orang orang rendah seperti kami memang layak untuk dijadikan obyek penderita. Sebenarnya ini bukanlah pertama kali aku dicaci maki oleh para istri laki laki yang kerap datang ketempat pelacuran ini. Tak jarang perempuan perempuan yang mengaku suci itu melabrakku habis habisan, mereka mencaciku sebagai pengganggu rumah tangga orang. Namun entahlah kenapa dihadapan istri Bastian, aku merasa menjadi wanita yang paling kotor, paling hina dimuka bumi ini. Aku malu berhadapan dengan wanita anggun ini. Aku tak pernah menduga kalau ternyata istri yang selalu ditinggalkan oleh Bastian ini adalah perempuan yang benar benar jauh lebih menarik dibandingkan denganku. Dalam hati aku mengutuki Bastian, karena dia telah berhasil menipuku dengan semua rayuannya dan cinta murahan yang dia berikan kepadaku. Hingga aku terhanyut dalam cintanya. Istri yang diceritakan oleh Bastian benar benar bertolak belakang dengan kenyataannya. Bagi pelacur seperti kami, hinaan orang telah menjadi makanan kami sehari hari. Cacian sebagai pengganggu rumah tangga orang itupun seringkali terdengar ditelingaku. Aku benar benar tak tahu harus berkata apa menanggapi cacian dari istri bastian. “ Maaf mbak, mungkin sebaiknya mbak bertanya kepada suami mbak, kenapa dia lebih suka datang ketempat pelacuran ini dibandingkan harus pulang kerumah!” hanya kalimat itulah yang akhirnya keluar dari mulutku. Tapi ternyata kata kataku cukup mampu membuat harga dirinya tertampar. Dengan bergegas meninggalkanku, dia masih saja mengeluarkan kata kata yang memang biasa aku dengar “Dasar pelacur murahan!”. Aku cuma tersenyum getir menanggapinya. Airmata yang dari tadi aku tahan menetes juga. Anganku untuk menjadi seorang istripun akhirnya pupus begitu saja. Sejak kejadian itu Bastian tidak pernah menampakkan batang hidungnya lagi ketempat pelacuran ini. Akupun tidak pernah berniat untuk mengubunginya. Ku biarkan diriku terbenam kembali kedalam lembah noda. Yah….mungkin memang disinilah tempatku. Tawa ceria dan segala candaku bersama Bastian itu ternyata tidak berumur lama. Begitu cepat perginya, sampai aku tak sempat memeluknya. Kebahagiaan agaknya, tidak pernah berpihak kepadaku. Segala sesuatunya sirna seketika. Berubah menjadi serba hitam dalam hidupku yang memang selalu dinaungi dengan kekelaman.
Dengan kejadian itu akhirnya membuatku berpikir, ternyata kadang pelacur seperti kamipun lebih berharga dari para istri yang mengaku suci itu. Bagaimana mungkin istri mereka yang begitu anggun dan cantik hanya disejajarkan dengan pelacur seperti kami. Jadi apa yang salah dengan kecantikan dan keanggunan mereka? Apa yang hebat dari pelacur seperti kami? Suami suami mereka bahkan mengakui kehebatan kami. Bagaimana cara kami memperlakukan mereka, semua sikap kami telah membuat mereka merasa menjadi laki laki yang berharga dan sempurna. Paling tidak begitulah pengakuan dari para suami dan laki laki yang sering datang ketempat pelacuran ini. Rasanya ingin kuberitahukan kepada seluruh wanita dibumi ini bahwa sebenarnya tidak ada yang hebat dari pelayanan kami. Hanya saja para laki laki itu adalah mahluk yang memang selalu ingin dihargai. Sebagai tamu kami, mereka kami perlakukan seperti raja, mereka menerima begitu banyak sanjungan dari kami yang mungkin saja tidak pernah mereka dapatkan dari pasangannya ataupun dari siapapun. Tidak peduli mereka laki laki yang bertampang rupawan, jelek, pendek, tinggi atau bahkan om om gendut sekalipun, kami tetap memperlakukan mereka seperti layaknya raja. Mungkin itulah kelebihan kami sebagai pelacur, karena dengan sikap penghargaan kami seperti itulah mereka akan datang kembali. Ditempat pelacuran ini mereka merasa dihargai. Aku tahu sebagai pelacur, aku tak pantas untuk memberi nasehat kepada siapapun, tapi paling tidak ceritaku ini bisa bermanfaat bagi semua perempuan yang suaminya mulai tidak betah berada dirumah. Kalian sebagai istri mungkin bisa memperlakukan suami suami kalian seperti yang telah kami lakukan. Menghargai mereka, menghormati mereka serta memperlakukan mereka sebagai mahluk yang paling istimewa dihati kalian. Jadi kenapa harus pelacur yang disalahkan?
Hidup Ini sudah ada yang menentukan. Tentu saja aku tidak memiliki kekuatan untuk bisa menghindar dari sebuah kenyataan. Semua kejadian begitu saja terjadi tanpa pernah kurencanakan. Cinta semu yang dihantarkan oleh Bastian kepadaku akhirnya memberikanku kesadaran bahwa setiap manusia dibumi ini diciptakan berharga dimata yang Kuasa. Meski cinta itu hanya sesaat ditawarkan kepadaku, namun cinta itu telah mampu membuat mata hatiku terbuka terhadap sesuatu yang sama sekali tidak baik menjadi baik. Setelah kejadian itu, aku memutuskan untuk meninggalkan dunia hitam yang telah membesarkan aku. Semula tante Monik, induk semangku tidak mengijinkan kepergianku, tapi mengingat sudah 15 tahun aku mengabdi kepadanya, akhirnya dia meluluskan permintaanku. Aku ingin berada didunia yang baru. Menjalani kehidupan yang baru, kehidupan yang bisa membuat orang lain lebih bisa menghargai aku. Tak peduli kehidupan seperti apa, namun aku ingin sekali berada ditempat yang berbeda, dimanapun itu, asal tidak ditempat pelacuran ini.
Hidup meniadi perempuan baik baik memang tidak mudah. Statusku sebagai mantan pelacur membuat orang orang disekelilingku kurang menghargai keberadaanku. Begitu banyak tatapan tatapan sinis yang aku terima dari lingkungan dimana aku tinggal.. Namun pada akhirnya aku menyukai duniaku dengan segala ketenangannya. Aku tak ingin menanggapi orang orang itu yang tak tahu apa apa tentang perasaanku. Mereka hanyalah orang orang bodoh yang sok tahu. Mereka semua membicarakannku penuh kesenangan, seolah olah aku ini kotoran yang menjijikkan yang harus dihindari. Tetapi aku akan membiarkan mereka melakukan itu, karena aku tahu ada seseorang yang memperlakukanku dengan baik. Yach…. Tuhan, Tuhan tahu yang terbaik untukku dan Dia telah mengangkatku dari Lumpur dosa untuk menjadi manusia yang berharga dimataNya. Dan aku yakin bekas pelacur kotor seperti akupun akan layak masuk ke dalam surga.